Apa pendapat kamu mendengar kalimat “Pendakian Puasa” ?
Yup, itulah ide gila yang terlintas di pikiranku kala itu, bulan Ramadhan 2013 lalu…
Tahun 2013 adalah tahun dimana jiwa mendakiku begitu kuat…#ciaah , berbekal rasa kangen, penasaran, ditambah ide konyol jadilah pendakian “istimewa” ini terlaksana. Target pendakian kali ini adalah tetap berpuasa sembari mendaki.
Usut punya usut sekitar 2 minggu sebelum pendakian ini, aku mulai jadi “kompor” buat ngajak temen2ku dalam rangka merealisasikan ide gilaku ini….Daaan, fortunately ada sahabat2 “gila” ku yang mau menemaniku menggila buat pendakian ini….ahahaha…love you guys!
Gunung yang akan kami sapa dalam misi ini adalah Gunung Pangrango dengan ketinggian 3019 mdpl. For your information, di gunung inilah Soe Hok Gie membuat puisi istimewa berjudul “Mandalawangi-Pangrango” yang menunjukkan betapa cintanya beliau pada gunung ini.
“aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta”
Paling suka baper kalo dengerin lagu Cahaya Bulan by Eros yang ada puisi Gie judulnya Sebuah Tanya… menyentuuuuuh banget dah pokoknya, recommended !!!
27 Juli 2013
Dari sekian banyak temen2 naik gunung, akhirnya Cuma 4 orang yang bersedia menemaniku melakukan misi istimewa di bulan ramadhan ini. Mereka adalah saudaraku di MAKAPALA, organisasi pecinta alam di kampusku. Tersangkanya adalah Tias, Aplik, Bang Iqbal, dan Bang Maman. Sebelum berangkat, aku sendiri dalam hati ragu sih…”bisa gak ya nyampe puncak puasa-puasa gini?kuat gak ya?” dan banyak pikiran negative lain…Tapi, yang namanya udah kangen plus rasa penasaran yang begitu besar bisa ngalahin pikiran2 nething tadi…#hohoho
Akhirnya berangkatlah kami berlima dengan menggunakan elf putih jurusan Sukabumi dengan ongkos waktu itu Rp.30.000 sekitar pukul 07.00 dari Bogor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam sampailah kami di TNGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Untuk naik gunung ini kita harus memiliki SIMAKSI (Surat Izin masuk Kawasan Konservasi) dan tiket yang awalnya sudah dibooking jauh2 hari lewat website www.gedepangrango.org .
Kedua gunung ini memang menjadi favorit para pendaki, khususnya yang berdomisili daerah Jabodetabek karena letaknya yang tidak terlalu jauh dan panoramanya yang memang mempesona, terlebih padang edelweisnya yang bakal membuat kita betah berlama-lama disana…#i promise… :D. Sengaja kita memilih Pangrango selain karena alasan diatas adalah karena gunung ini memiliki hutan tropis yang lebat, sehingga dapat mengurangi dehidrasi ketika naik gunung sambil puasa…#gak kebayang kan kalo puasa2 naik gunungnya Gunung Guntur? Baru sejam jalan pasti udah batal gegara panaaaaas….hahaha.
| Jernihnya danau di pos telaga biru bakal bikin kita lupa kalo lagi naik gunung…. |
| Berpose di jalur yang berupa kayu kaya’ begini juga gak kalah keren kok… |
Nah, sumber air panas gak Cuma ada di Gunung Rinjani guys, jalur Ge-Pang via Cibodas ini juga punya…dan asiknya tempat ini berada di pinggir jalur pendakian sehingga kita bisa beristirahat sambil merendam kaki yang lumayan lelah setelah diajak berjalan… rileeeeeks ^^
Tidur dulu setelah shalat dzuhur di pos Air Panas…..tepaaaaaar, tapi Alhamdulillah puasanya belum batal….:D hahaha
Setelah beristirahat sekitar 1 jam, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos Kandang Badak, tempat yang kita rencanakan buat berbuka puasa nanti…
Akhirnya, sekitar pukul 16.00 kami tiba di pos Kandang Badak, awan mulai mendung, pertenda sepertinya kan turun hujan…Kamipun memasang flysheet dan menggelar matras untuk sholat. Selama di gunung, jangan lupa sholat yak, khususnya bagi umat beragama Islam, karena sholat kan tiang agama. Betul apa betul? Hehehe…
Selepas sholat ashar, kami tiduran, meluruskan punggung, dan memejamkan mata sekedar melepas lelah yang ada, serta melupakan rasa haus dan lapar yang melanda…#hahaha
Baru setengah jam terpejam, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, untung kami sudah memasang flysheet, tapi sayangnya medan yang kami tiduri sedikit miring dan parahnya kami tidak membuat jalur air. Sehingga saat itu juga dengan sigap para lelaki membuat jalur air dengan pisau. Berharap air tidak melewati tempat istirahat kami terlalu banyak. Sementara, para wanita yaitu aku dan Tias memasak untuk menu berbuka puasa. Sebisa mungkin diantara kami tidak ada yang diam untuk mencegah hypothermia. Alhamdulillah, magrib tiba – hujan mulai reda – buka puasa kala itu berasaaaaa banget nikmatnya, membuat kami tak henti2nya bersyukur ;’) . . .
Kami juga membuat teh manis panas untuk disimpan di termos bekal perjalanan menuju puncak dan Mandalawangi tentunya… perjalanan menuju titik camp tidak cukup mudah karena tanah basah akibat hujan, dan medan yang berupa akar2 pohon. Akhirnya sekitar pukul 22.30 kami tiba di puncak Pangrango dan langsung turun menuju lembah kasih, Mandalawangi. Jengjeeeeng ternyata tak ada satupun pendaki disana, tak menunggu lama karena hawa yang menusuk tulang, kami langsung membangun tenda, pakai jaket,dan bersiap untuk sholat. Sholat apa? Sholat isya, tarawih 8 rakaat, dan witir 3 rakaat. Kami sholat didekat tenda, ditengah dinginnya Mandalawangi, dibawah taburan bintang-bintang dan bulan… Syahduuuuuuu…. Berasa pengen nangis terharu kalo inget itu..#hahaha…walaupun terkadang ditengah sholat badan ini bergidik karena dingin, atau mulut yang sedikit membeku mengucap kata “Aamiin”… But, I miss it so much..
Setelah sholat dan sedikit berfoto, kami memasak sedikit untuk sahur dan dilanjutkan tiduuur. Sekitar pukul 03.00 tanggal 28 Juli 2013 kami bangun untuk makan sahur, mengisi tenaga untuk turun gunung… yaaa, sahur on the mount gitu ceritanya…#hahahaha
Sahur on the mountain..^^
|
| ah...pendakian yang selalu mengukir rindu...:') |
Sungguh,
Mandalawangi kala itu seperti kepingan surga milik pribadi. Bagaimana tidak, di
padang edelweiss seluas itu hanya ada 1 tenda kami berdiri, dan hanya ada 5
orang manusia disini…..Subhanallah, sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kau
dustakan?