Rabu, 09 Desember 2015

Pendakian Puasa, bukan Puasa Pendakian ^^

Apa pendapat kamu mendengar kalimat “Pendakian Puasa” ?
Yup, itulah ide gila yang terlintas di pikiranku kala itu, bulan Ramadhan 2013 lalu…
Tahun 2013 adalah tahun dimana jiwa mendakiku begitu kuat…#ciaah , berbekal rasa kangen, penasaran, ditambah ide konyol jadilah pendakian “istimewa” ini terlaksana. Target pendakian kali ini adalah tetap berpuasa sembari mendaki.
 Usut punya usut sekitar 2 minggu sebelum pendakian ini, aku mulai jadi “kompor” buat ngajak temen2ku dalam rangka merealisasikan ide gilaku ini….Daaan, fortunately ada sahabat2 “gila” ku yang mau menemaniku menggila buat pendakian ini….ahahaha…love you guys!

Gunung yang akan kami sapa dalam misi ini adalah Gunung Pangrango dengan ketinggian 3019 mdpl. For your information, di gunung inilah Soe Hok Gie membuat puisi istimewa berjudul “Mandalawangi-Pangrango” yang menunjukkan betapa cintanya beliau pada gunung ini.

“aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta”

Paling suka baper kalo dengerin lagu Cahaya Bulan by Eros yang ada puisi Gie judulnya Sebuah Tanya… menyentuuuuuh banget dah pokoknya, recommended !!!

27 Juli 2013
Dari sekian banyak temen2 naik gunung, akhirnya Cuma 4 orang yang bersedia menemaniku melakukan misi istimewa di bulan ramadhan ini. Mereka adalah saudaraku di MAKAPALA, organisasi pecinta alam di kampusku. Tersangkanya adalah Tias, Aplik, Bang Iqbal, dan Bang Maman. Sebelum berangkat, aku sendiri dalam hati ragu sih…”bisa gak ya nyampe puncak puasa-puasa gini?kuat gak ya?” dan banyak pikiran negative lain…Tapi, yang namanya udah kangen plus rasa penasaran yang begitu besar bisa ngalahin pikiran2 nething tadi…#hohoho

Akhirnya berangkatlah kami berlima dengan menggunakan elf putih jurusan Sukabumi dengan ongkos waktu itu Rp.30.000 sekitar pukul 07.00 dari Bogor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam sampailah kami di TNGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Untuk naik gunung ini kita harus memiliki SIMAKSI (Surat Izin masuk Kawasan Konservasi) dan tiket yang awalnya sudah dibooking jauh2 hari lewat website www.gedepangrango.org .


Kedua gunung ini memang menjadi favorit para pendaki, khususnya yang berdomisili daerah Jabodetabek karena letaknya yang tidak terlalu jauh dan panoramanya yang memang mempesona, terlebih padang edelweisnya yang bakal membuat kita betah berlama-lama disana…#i promise… :D. Sengaja kita memilih Pangrango selain karena alasan diatas adalah karena gunung ini memiliki hutan tropis yang lebat, sehingga dapat mengurangi dehidrasi ketika naik gunung sambil puasa…#gak kebayang kan kalo puasa2 naik gunungnya Gunung Guntur? Baru sejam jalan pasti udah batal gegara panaaaaas….hahaha.

Narsis duluuu sebelum nanjak….:D
Dari kiri ke kanan : Bang Iqbal, Tias, Susan, Aplik, Bang Maman

Untuk pos-pos pendakian ini sama dengan ceritaku sebelumnya yang berjudul “Secarik surat dari 2958”, karena memang kedua gunung ini tak terpisahkan…#eaaa…jadi emang kalo naik lewat jalur Cibodas, setelah pos kandang batu akan ada persimpangan. Jika kalian mau ke Gunung Gede maka ambil jalur ke kiri, sementara jika hendak ke Pangrango ambil jalur kanan…gampang kan? Karena 1 jalur inilah tidak sedikit pendaki yang datang dari jauh langsung menargetkan mendaki kedua gunung ini sekaligus…tapi kalo buat aku mah, makasih…Sayang naik gunung kalo cepet2.an tanpa menikmati…hahaha

Memang banyak banget spot menarik bin keren dari jalur pendakian Cibodas ini yang bikin kita2 gak berhenti buat foto ^^, diantaranya :
Jernihnya danau di pos telaga biru bakal bikin kita lupa kalo lagi naik gunung….
Berpose di jalur yang berupa kayu kaya’ begini juga gak kalah keren kok…
Nah, sumber air panas gak Cuma ada di Gunung Rinjani guys, jalur Ge-Pang via Cibodas ini juga punya…dan asiknya tempat ini berada di pinggir jalur pendakian sehingga kita bisa beristirahat sambil merendam kaki yang lumayan lelah setelah diajak berjalan… rileeeeeks ^^

Tidur dulu setelah shalat dzuhur di pos Air Panas…..tepaaaaaar, tapi Alhamdulillah puasanya belum batal….:D hahaha

Setelah beristirahat sekitar 1 jam, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos Kandang Badak, tempat yang kita rencanakan buat berbuka puasa nanti…
Akhirnya, sekitar pukul 16.00 kami tiba di pos Kandang Badak, awan mulai mendung, pertenda sepertinya kan turun hujan…Kamipun memasang flysheet dan menggelar matras untuk sholat. Selama di gunung, jangan lupa sholat yak, khususnya bagi umat beragama Islam, karena sholat kan tiang agama. Betul apa betul? Hehehe…

Selepas sholat ashar, kami tiduran, meluruskan punggung, dan memejamkan mata sekedar melepas lelah yang ada, serta melupakan rasa haus dan lapar yang melanda…#hahaha
Baru setengah jam terpejam, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, untung kami sudah memasang flysheet, tapi sayangnya medan yang kami tiduri sedikit miring dan parahnya kami tidak membuat jalur air. Sehingga saat itu juga dengan sigap para lelaki membuat jalur air dengan pisau. Berharap air tidak melewati tempat istirahat kami terlalu banyak. Sementara, para wanita yaitu aku dan Tias memasak untuk menu berbuka puasa. Sebisa mungkin diantara kami tidak ada yang diam untuk mencegah hypothermia. Alhamdulillah, magrib tiba – hujan mulai reda – buka puasa kala itu berasaaaaa banget nikmatnya, membuat kami tak henti2nya bersyukur ;’) . . .

Kami juga membuat teh manis panas untuk disimpan di termos bekal perjalanan menuju puncak dan Mandalawangi tentunya… perjalanan menuju titik camp tidak cukup mudah karena tanah basah akibat hujan, dan medan yang berupa  akar2 pohon. Akhirnya sekitar pukul 22.30 kami tiba di puncak Pangrango dan langsung turun menuju lembah kasih, Mandalawangi. Jengjeeeeng ternyata tak ada satupun pendaki disana,  tak menunggu lama karena hawa yang menusuk tulang, kami langsung membangun tenda, pakai jaket,dan bersiap untuk sholat. Sholat apa? Sholat isya, tarawih 8 rakaat, dan witir 3 rakaat.  Kami sholat didekat tenda, ditengah dinginnya Mandalawangi, dibawah taburan bintang-bintang dan bulan… Syahduuuuuuu…. Berasa pengen nangis terharu kalo inget itu..#hahaha…walaupun terkadang ditengah sholat badan ini bergidik karena dingin, atau mulut yang sedikit membeku mengucap kata “Aamiin”… But, I miss it so much..
Setelah sholat dan sedikit berfoto, kami memasak sedikit untuk sahur dan dilanjutkan tiduuur. Sekitar pukul 03.00 tanggal 28 Juli 2013 kami bangun untuk makan sahur, mengisi tenaga untuk turun gunung… yaaa, sahur on the mount gitu ceritanya…#hahahaha 
Sahur on the mountain..^^
ah...pendakian yang selalu mengukir rindu...:')
Sungguh, Mandalawangi kala itu seperti kepingan surga milik pribadi. Bagaimana tidak, di padang edelweiss seluas itu hanya ada 1 tenda kami berdiri, dan hanya ada 5 orang manusia disini…..Subhanallah, sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?
Edelweiss yang sedang mekar, sungai jernih yang begitu segar…^^

Terima kasih Tuhan,
Sampai jumpa Mandalawangi, mungkin cinta Gie kala itu padamu seperti apa yang kami rasakan kali ini…. Love Youuuu <3




Jumat, 04 Desember 2015

Coretan Pertama

Secarik Surat dari 2958

“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari… Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  
By : Pramoedya Ananta Toer 

Yap. . .menurutku ada cara bagi kita semua agar tidak hilang dalam sejarah...
“Dokumentasi”, ya dokumentasi baik berupa gambar, foto, video, tulisan, atau apapun itu yang bisa merekam ingatan kita yang terbatas. Setiap tempat punya cerita, setiap detik akan merajut peristiwa, dan semua itu akan menorehkan kesan yang berbeda. Dan kali ini aku akan bercerita untukmu, Sayang. . . Rinduku pada ketinggian mungkin menjadi salah satu faktor utama aku menulis ini. Disamping kegalauanku dalam menunggu masa PKL yang sehari-hari berisi kemonotonan di kamar berukuran 4x4 meter ini. . .-_- 

Dengarkan baik-baik salah satu dongeng kehidupanku Sayang. . . #jangan ngantuk ya, jangan tidur sebelum aku tidur. . .ok? ^_^ Kali ini akan kulantunkan dongeng dari Lembah Surya Kencana…. Ya, Gunung Gede dengan ketinggian 2958 mdpl ini punya cerita. Dulu, 8 Oktober 2011 menjadi titik awal kecintaanku pada dunia pendakian. Kau tahu sayang? Sebenarnya sudah dari SD aku naik gunung, bukit di belakang sekolahku #udah kaya di film Doraemon# menjadi ketinggian pertama yang kudaki, mungkin sekitar 600-800 mdpl. Hahaha… ok back to Sukabumi, pertama kali akan menginjakkan kaki di gunung ini begitu mendebarkan, semangat 45, dan so pasti senang karena aku akan naik gunung yang sesungguhnya….:D 

Well, waktu itu aku masih tingkat 1 dan calon anggota salah satu organisasi pecinta alam di kampusku. Masih polos nan imutnya lah ya, sampai aku mau bawa selimut tebal bin gede ke gunung -_- yang pada akhirnya sebelum pemberangkatan selimut itu gak jadi dibawa a.k.a disimpan di sekret #ya iyalah#. Ditemani Kakak dan Abang2 serta kawan seperjuangan (calon anggota) berangkatlah kita mencari kitab suci #eh# menuju Cibodas (1425 mdpl), maksudnya. Setelah mengantongi SIMAKSI dan daftar online, serta bayar patungan buat ongkos,konsumsi,dll mulailah kita membuat jejak disini  . Langkah demi langkah kami diiringi deru nafas dan cucuran keringat menjadi kawan setia sepanjang perjalanan. Awal perjalanan trek berupa batu yang telah tersusun rapi layaknya tangga, suasana hutan hujan tropis, suara kicauan burung dan deru air di sepanjang penantian menuju puncak begitu menentramkan jiwa. Ah, sungguh menyenangkan Sayang, apalagi bersamamu . Sekitar 15 menit berjalan kita akan sampai di Pos Telaga Warna pada ketinggian 1500 mdpl, disini ada sebuah rawa yang airnya dapat berubah-ubah karena adanya tanaman ganggang yang tumbuh di dasar telaga. Konon disini pula ada ikan yang ukurannya sangat besar dan mistis, walaupun aku sendiri belum pernah melihatnya Sayangku…hehe, menurutku tempat ini menjadi salah satu spot terbaik untuk kita foto berdua, 11-12 lah sama Ranu Kumbolo di Semeru…:D 

Next, trek berubah dari batu menjadi jembatan kayu yang sudah mulai rusak, tapi tahun 2013 kemarin sudah disemen sehingga lebih safety bagi para pendaki, disini juga ada spot bagus buat foto dimana kita duduk/ berdiri di jembatan dengan Gunung Pangrango tampak gagah dibelakang kita, there will be a nice photo, right?…menyusuri jalan ini kita akan sampai di pos Rawa Gayang Agung yang selanjutnya trek kembali berupa tanjakan dengan batuan seperti trek awal yang akan mengantarkan kita ke pos Panyancangan Kuda pada ketinggian 1628 mdpl. Pos ini berupa pertigaan, dimana ke kanan menuju air terjun Cibereum, sedangkan lurus menuju puncak. Tahukah kamu Sayang, setelah 3x ke Gede aku belum pernah ke air tejun itu…jadi kau mau kan menemaniku kesana, menikmati canda tawa dalam secangkir kopi di tepi air terjun?  … 

Lanjut ke tujuan awal yaitu puncak…perjalanan makin melelahkan, “berapa lama lagi menuju puncak?” itu yang selalu menjadi pertanyaan bagi para pendaki gunung, “5 menit lagi”, begitulah jawaban para senior yang sudah pernah naik gunung itu #tujuannya sih menyemangati, dibalik PHP#... dari pertigaan menuju puncak jalur terus menanjak, beberapa menit kita sampai di pos Batu Kukus (1820 mdpl). Dari sini jalan berbatu mulai berganti dengan tanah serta bonus/ jalan datar :D #that’s what we’re waiting…haha#. Pos selanjutnya adalah pos Pondok Pemandangan yang sering digunakan beristirahat bagi pendaki menunggu antrian melewati air panas jika musim ramainya pendakian. Melewati air panas disini rasanya seperti spa alam…haha…jarang2 kan ada air panas ditengah jalur pendakian, tapi kita tidak lama-lama mengingat disamping kanan adalah jurang yang cukup dalam, disamping itu juga pasti para pendaki mau lewat, so don’t stop in this area too long,ok? 

Sedikit berjalan keatas, ada sungai berair hangat, disini kita bisa berendam melemaskan otot2 yang lelah…wah, surga dunia… setelah puas beristirahat perjalanan berlanjut yang akan membawa kita sampai di pos Kandang Batu pada ketinggian 2220 mdpl yang berupa tanah datar luas, namun tujuan kita istirahat makan siang adalah di pos Kandang Badak, (2395 mdpl). Di pos ini kita mengisi air untuk persediaan sampai puncak serta mengisi tenaga karena jalur yang selanjutnya akan lebih berat. Untuk menuju puncak gede dari pos ini kita berjalan ke atas dan ambil arah ke kiri, sedangkan ke kanan apabila kita ingin menuju puncak Pangrango. Trek tetap berupa tanah sampai beberapa menit kita sampai di Tanjakan Setan #wuih, namanya serem amat ya# tanjakan ini lebih mirip tebing, sehingga ketika melaluinya kita harus menjat menggunakan tali tambang yang sudah dipasang….sensasinya? mantap sekali Sayang, ketika sampai diatas justru kita ingin mencobanya lagi..haha… Dari sini kita melalui pepohonan yang sumpah bikin aku jenuh karena selalu mempertanyakan kapan bisa ku temui tanah datar..-_-  

Finally, setelah perjalanan ±8 jam sampailah aku dan teman2 sependakian seperjuangan di Puncak Gunung Gede 2958 mdpl….:D setelah penantian panjang, kita dimanjakan dengan kawah gunung gede serta panorama gunung pangrango di sebelah barat dan kota2 yang tampak kecil di sisi utara-selatan… tanah di puncak ini berupa batu2an hitam lepas… Tidak terlalu lama di puncak, turunlah kita menuju taman edelweiss…setelah 15 menit….yap, Surya Kencana we’re coming……:D pertama kali melihat tempat ini rasanya begitu…hmm,….speechless :3… indaaaah banget, bayangkan saja, tanah lapang dengan dipenuhi bunga edelweiss, bunga abadi dengan latar belakang gunung Gemuruh…..wooow….tidak pernah ada kata bosan mengunjungi tempat ini…disini juga ada aliran sungai yang jernih dan segar tentunya….menyenangkan sekali membayangkannya saja…#ya,karena aku selalu rindu tempat ini# … kami mendirikan tenda dan memasak….hal kecil inipun juga selalu ku rindu….#uh..i really miss those moments so much :’) #.. Surya Kencana juga menjadi tempat bersejarah bagi angkatanku Sayang, angkatan PDM XX… aku, dan mereka dilantik disini…di tengah hamparan bunga edelweiss berselimut kabut tipis…disini aku mendapatkan nomor itu M/191091/284/PDM XX… begitu pula dengan saudara-saudaraku yang lain dengan nomornya masing-masing. . . 

Aku rindu Surya Kencana, edelweiss, sunrise, dan…. Aku rindu mereka….. 
Dan tentunya aku merindukanmu, Sayangku… 
Dalam penantianku, kan kupastikan kesana lagi, Bersamamu nanti. . . :’) 

Disusun oleh :Shusy Suzan
- Secarik Surat dari 2958-