Mistis Manisnya Lawu via Candi
Cetho
20 Januari 2016,
“Lawu via candi cetho...kapan
yaaa-__-“ begitu kira2 isi status fb saya kala itu...
Ada 1 komen yg mnggelitik dari
sahabat saya, sebut saja namanya Prista...ajakan untuk mendaki gunung yg sudah
lama saya nanti diakhir Januari, tak lain tak bukan adalah pendakian Lawu jalur
Cetho. Tanpa pikir panjang saya segera browsing dan mencari tiket menuju kota
budaya, Solo. Tepat tgl 28 saya berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju
stasiun Purwosari dengan mengantongi tiket seharga Rp.155.000,- kelas ekonomi
tentunya...#anak kos/rantau pasti nyari yg murah..hahaha. setelah sekitar 9 jam
di kereta akhirnya saya sampaidi Surakarta,langsung menuju kos Prista di
belakang UNS dan tidur bersiap untuk acara esoknya.
Sabtu, 30 Januari 2016
Tepat pukul 09.00 kami
berangkat dari Solo, ngaret 1 jam sudah biasaaa...#hahaha. Sepanjang perjalanan
menuju candi Cetho langit cerah, matahari bersinar terang, kupu2 beterbangan
menemani kami...sungguh pemandangan yg well sekali pemirsa..:D. Oiya, FYI
diantara kami berempat belum pernah ada yg mendaki lewat jalur candi cetho,
hanya pernah berkunjung sampai Candi Cetho dan candi Ketheknya saja...jadi ya
bisa dibilang modal nekat, tapi ya tetep safety...seminggu sebelumnya kami
mencari informasi sebanyak2nya tentang jalur ini, membawa kompas, HT, peta, dan
tali rafia sebagai tanda karena banyak yg bilang jalur ini rawan pendaki
tersesat.
Tim saya kali ini hanya 4
orang, yaitu saya, Prista, Mas Ucil, dan Mas Anda. Basecamp pendakian berada di
sisi kanan Candi Cetho, jadi bagi yang hendak menitipkan kendaraan dari loket
ambil arah kanan lalu naik sedikit. Di sisi kanan jalan ada rumah bercat orange
disitu basecampnya. Harga tiket untuk pendakian sebesar Rp.7000, tanpa disertai
peta jalur pendakian,tapi tenang saja kita bisa mengambil foto dari peta yg
terpasang di basecamp.
![]() |
| Peta jalur Lawu via Candi Cetho |
Sebelum nanjak kami sempatkan berbincang dengan bapak pemilik basecamp, beliau menuturkan bahwa biasanya beliau hanya perlu waktu 4jam untuk sampai puncak...#wow..padahal normalnya dari website yg saya baca untuk sekali naik saja diperlukan waktu sekitar 13 jam....#clap hands for local people pokoknya mah...hhaha..selain itu, katanya jalur Cetho ini adalah gerbang/pintu depan dari Gunung Lawu. Sementara Jalur Cemoro Sewu yg biasa jadi favorit pendaki adalah jalur belakang, “orang bertamu itu kan yo harusnya dan sopannya lewat depan, bukan lewat belakang. Pintunya nanti pas di Pasar Dieng kalian akan ngeliat trap2/batu bersusun seperti tangga ya itu gerbangnya” begitu tuturnya...sempet merinding juga sih pas denger beginian...#hahaha..sudah bukan rahasia lagi bahwa gunung Lawu memang salah satu gunung yg dikeramatkan, bahkan ada yg menyebutkan gunung ini merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa.
Sekitar pukul 11 siang kami
memulai pendakian dengan do’a dulu tentunya, jalur awal pendakian bisa masuk
lewat Candi Cetho, bisa juga lewat sisi kanan Candi Cetho yg berupa ladang
warga...kami mengambil jalur kanan karena berdasarkan penuturan Bapak tadi
jalur ini lebih cepat, jalur Candi Cetho ini berupa tanah yg cukup licin bila
hujan. Belum 15 menit berjalan, kami mendengar suara elang dan melihatnya
terbang tinggi di langit biru...#subhanallah.., sayang kamera ini tak bisa
menangkapnya...#huhuhu..perjalanan dilanjutkan melewati ladang penduduk dan
berujung di sungai, dari sini kita menyebrang sungai dan mengambil jalur ke
atas yg cukup curam. Setelah itu kita akan bertemu jalur yg lewat candi
kethek.. jalur tetap menanjak dengan kemiringan sekitar 35o .setelah
1 jam berjalan kami sampai di pos 1 / Mbah Branti yg ditandai berupa shelter di
sisi kiri jalan..saya tidak sempat bertanya kenapa nama pos ini dinamakan demikian,
tetapi sepertinya pos dan nama ini memiliki cerita mistis tersendiri.. Menunggu
adzan sembari beristirahat. Disini saya tersadar bahwa saya kedatangan “tamu
bulanan”..wew..ujungnya saya dan prista sama2 gak sholat...#haha..sedikit tips
buat yg nanjak tapi lagi “dapet” kaya’ saya, tetep positif thinking bahwa kita
kuat, jangan ngebuang pembalut sembarangan, tapi bawa lagi turun, dan jangan
sampai pikiran kita kosong....#ok J
| Pos 1. Mbah Branti....say hiiiii |
Setelah beristirahat setengah
jam dan narsis2 di pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2. Jalur mulai
tertutup rapat dengan semak2 dan udah berasa “hutan”nya ...sementara jalur
masih tetap tanah licin dengan tanjakan dan sesekali “bonus” alias jalan
datar...#yuhuu..setengah jam berjalan kami sampai di pos 2/ Brakseng yg ditandai
dengan pohon besar berbalut kain putih dan gubuk yg dibangun seperti bivak di
ketinggian 2000 mdpl...
| Pos 2. Brakseng....mistisnya berasaaaa...... |
Nuansa mistisnya berasaaaa banget, baru mau nglewatin
pohon aja bulu kuduk saya langsung merinding dari bawah sampai atas...dinginnya
dingin aneh..tapi saya diam saja pura2 gak ada apa2, pas udah nyampe bawah baru
kita2 pada cerita...hahaha...baru 1 menit, gerimis tiba2 datang, kami berempat
langsung berlindung di dalam bivak, dan tidak berapa lama ada rombongan lain
datang sekitar 5 orang laki2 semua (Mas Fajar, Raka,dan tiga lagi saya lupa
namanya..hahaha)..kami ngobrol ngalor ngidul didalam bivak, setelah sekitar 10
menit kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pos 3, sementara rombongan
lain masih memutuskan beristirahat disitu lebih lama.
Jalur dari pos 2 ke pos 3
masih sama berupa tanjakan2 dengan kemiringan sekitar 60o., dengan
sesekali masih ada track bonus dan terkadang harus melewati pohon tumbang di
tengah jalur...selain itu, di sisi kiri-kanan jalan kita akan disuguhi hijaunya
hutan lamtoro yg cukup tinggi dan justru mirip seperti hutan bambu...keceee dah
menurut saya...:D.
| Berasa lagi di tengah hutan bambu Jepang...ahahahay |
Setelah 1,5 jam berjalan tibalah kami di pos 3/Cemoro Dowo
dengan ketinggian 2250 mdpl. Sama halnya dengan pos 1 dan 2, di pos 3 ini juga
terdapat shelter di sisi kiri jalan. Di pos ini dapat menampung sekitar 3
tenda. Disarankan untuk tidak bermalam di pos 1 ataupun 2, karena sangat kental
dengan suasana mistisnya...#percaya deeh..haha. Di pos ini kami beristirahat
agak lama, membuat teh hangat dan ngemil roti+kacang untuk mengisi tenaga,
sambil menunggu para lelaki sholat ashar.
| Selfie dulu laaah di pos 3....:D |
Jam di tangan menunjukkan
pukul 16.30, kami segera bergegas menuju pos 4 / Penggik Ondorante...Track
semakin menanjak, beberapa kali kami harus melewati pohon tumbang di tengah
jalur pendakian.
Kondisi medan seperti ini membuat kami lebih sering
beristirahat, 1 jam berjalan pos 4 belum nampak sementara senja mulai terlukis
di langit timur, kami terduduk sebentar menikmati senja yg tertutup awan yg
terlihat samar diantara pohon lamtoro dan edelweis yg belum kembang..Akhirnya
sekitar jem 18.00, kami tiba di pos 4 di ketinggian 2500 mdpl.
| Berasa "hutan"nya...:3 |
Berhenti sejenak
menunggu magrib, dan melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini masing2 dari kami
sudah memakai senter/headlamp mengingat jalur yg tertutup rapat dan hari sudah
mulai gelap. Sebenarnya disini saya sudah merasa kurang enak karena berjalan
malam, apalagi saya sedang kedatangan “tamu”, ditambah saya yg berjalan paling
depan...#wew...saya mulai menepis pikiran2 negatif, sambil terus membaca-baca
do’a dalam hati, setelah 45 menit berjalan, saya benar2 dikejutkan dengan pemandangan
yg tertangkap oleh headlamp
saya...awalnya saya kurang yakin dengan apa yg saya lihat, tapi ketika saya
melihatnya kedua kali saya yakin dengan apa yg saya lihat...you know what i see??? Yaaa, seorang
mbak2 berpakaian putih dengn rambut menutupi wajahnya dan hanya nampak setengah
badan sedang berdiri di depan kiri jalur. Saya mencoba tetap tenang, agar yg
lain tidak panik dan meminta mas ucil untuk berjalan didepan menggantikan saya...Ketika
saya minta digantiin, eh dianya pake nanya “kenapa?” ...saya bilang aja “gak
papa”...sepertinya dari muka sayapun dia paham tapi pura2 gak
tau...#hahaha...kali ini posisi paling depan mas ucil, lalu prista, saya, dan
paling belakang mas Anda. Belum 5 menit kejadian tadi, kali ini ganti
prista...tiba2 saat beristirahat dia bertanya “itu apa sih disana, cahaya
putih2 bentuknya kotak?” sambil menunjuk ke arah bawah jalur yg kami lewati
tadi...disitu saya sedikit merinding juga sih karena saya tidak melihat apa2,
begitupun mas ucil dan mas anda....#wew wew...
Kami langsung melanjutkan
berjalan, kerana jika istirahat terlalu lama hawa dingin akan semakin terasa,
vegetas yg awalnya cemara kini berubah sabana itu artinya pos 5 sudah dekat.
Tapi didepan jalur tertutup oleh pohon tumbang yg lumayan besar...Membawa
cariel dengan beban berat, sementara sebelah kiri adalah jurang membuat kami
ekstra hati2 melewatinya...Saya di depan melepas cariel dulu dan melemparkannya
melewati pohon tersebut untuk memudahkan melintas..berhasil! dilanjutkan
prista, kali ini dia melewati dengan memeluk pohon itu sedikit lucu
sih...gimanapun style nya yg penting aman...#hahaha..di depan sayup2 terdengar
suara orang dan terlihat cahaya, alhamdulillah...berarti jalur yg kami lalui
benar...awalnya saya sedikit ragu gara2 pohon tumbang besar tadi...#hahaha...
Akhirnya jam 20.00 kami sampai
di pos 5 /Bulak Peperangan dg ketinggian 2850 mdpl. ..Tempat ini luaaaaaaaaaas
banget, dan senengnya kami sudah disiapin lapak buat bikin tenda sama mas2 yg
tadi bareng kita pas di pos 4...
Angin disini bener2 kencang, tapi jika
dibandingkan dinginnya. Masih dingin Lawu via Cemoro Sewu sih...#entahlah, saya
ngerasanya begitu...hahaha..Mas Anda dan mas ucil bangun tenda, sementara saya
dan prista memasak untuk makan malam.. Menu kali ini adalah tumis jamur, dan
sarden telur orak-arik...enaaak, emang ya di gunung gak ada yg gak enak, adanya
cuma enak sama enak benget,,,,hahaha...#efek laper dan lelah..
| Pos 5....Bulak Peperangan yg bener2 memikat |
Perut kenyang, hati senang,
waktunya bersiap untuk terlelap... kali ini si prista bawa2 aluminium foil buat
ngebungkus kakinya, ceritanya biar gak dingin gitu,,setelah dibungkus al.foil
udah kaya pepes, dia masuk SB lalu kainya masuk ke cariel..#wow banget ni anak
batin saya..hahaha...sementara saya sengaja membawa 2 SB karena tau Lawu
terkenal sebagai gunung terdingin se-pulau Jawa...Malam itu antara tidur-dan
gak tidur...yaaa, seperti di gunung lain pada umumnya, saya selalu tidak bisa
tidur terlalu lelap.,bahkan anehnya saya sempat merasa gerah di tengah
malam...#haha..
| Kabut manis nan mistis... |
Minggu,31 Januari 2016
Well, rasa
malas untuk bangun pagi melanda gegara badai dan hujan semalam, beruntung tenda
gak bocor...hanya berembun di sisi kiri tepat Mas Anda tidur...#derita
doi..hahaha.
Saya bangun paling awal karena
harus mematikan alarm HP jam 05.00, dan membangunkan makhluk2 lain yaitu Mas
Ucil dan Mas Anda yg notabene kudu sholat subuh, sementara prista ikut
terbangun karena kakinya sempat kram gegara masuk carriel..#hahaha..ada2 aja...
Buka tenda, hawa dingin langsung
menyapa disertai kabut yg menurut saya kereeen....kabut yg menyiratkan suasana
mistis nan eksotis..#eaaa...baru beberapa menit, gerimis turun lagi, tapi
untungnya sekitar pukul 06.30 hujan reda dan kami semua bersiap keluar tenda
setelah membuat minuman hangat sembari berfoto2 ria...Subhanallah, saya benar2
jatuh cinta dengan pemandangan didepan mata saya...setelah sekitar 1 jam
mengabadikan setiap sudut indahnya, kami bersiap muncak ke Hargo Dalem, ya
target kami memang hanya untuk sarapan di warung Mbok Yem...karena setelah
sekian kali naik Lawu kami berempat belum pernah mampir kesana...siapa sih yg
gak pengen nyoba sarapan nasi pecel yg melegenda itu..kebayang kan gimana
nikmatnya menyantap nasi pecel di ketinggian >3000 mdpl..#yummiii.... Kelar
packing P3K, air minum, snack, dan barang berharga lantas kami berdo’a dan
lngsung melanjutkan perjalanan, mengingat pendaki samping tenda kami berangkat
tidak lama sebelum kami...Niatnya mau ngejar biar bareng, karena diantara
rombongan tersebut ada yg sudah berkali2 naik Lawu via cetho...kan lumayan bisa
bareng guide gratis sekalian saudara baru ceritanya...#hahaha..
| Tanjakan cinta ala Lawu.... |
Dari Bulak
Peperangan menuju Pasar Dieng kita akan disuguhkan pemandangan yg membuat mata
dan hati jatuh cinta pada pandangan pertama..sekitar 5 menit berjalan dari
tenda, kita akan dihadapkan tanjakan cinta, mirip yg ada di
Semeru...selanjutnya dari sini kita ambil jalur ke arah kanan lalau sedikit
belok ke kiri ke arah atas dan bersiaplah dikejutkan dengan sabana hijau yg
luaaaaaaaaaaaas membentang....benar2 menyejukkan mata, dan menyulap siapapun yg
melihatnya menjadi terpana dan bilang..”wow”, termasuk saya...#hahaha...
| Adem gak tuh ngliatnya...hahaha |
Sekitar
15 menit berjalan di sisi kiri jalur akan terlihat genangan air yg biasa
disebut Tapak Menjangan, yg apabila sedang musim hujan akan terlihat seperti
Ranu Kumbolo versi mini...sekali lagi bilang “wow..subhanallah”...hahaha.
Disini saya gak sengaja inframe foto sama tetangga tenda sebelah, yg hasil
jepretannya saya sukaaaaa sekali...hahaha...thanks to Mas Fajar..:3...
| Asek2 ....reflection in Tapak Menjangan :) |
Lanjut lagi mengarungi sabana
yg seperti tidak ada habisnya, disini juga rawan pendaki tersesat loh, so keep
focus and safety yak....lepas sabana kita akan melalui tanjakan yg kanan
kirinya berupa pohon2 bekas kebakaran yg memberikan keunikannya tersendiri..
![]() |
| Hutan2 bekas kebakaran yg mistis tapi eksotis.... |
| Gerbang di Pasar Dieng....wew |
Oiya, dari hargo dalem menuju
warung mbok yem kita cukup ambil arah ke kiri, sementara jika hendak ke rumah
botol dari akhir tangga pertama ambil arah ke kanan...Disini kita akan sering
bertemu burung jalak lawu yg konon adalah jelmaan dari Sunan Lawu...burung ini
kerap membantu pendaki2 loh, seperti menuntun jalan gitu...termasuk kami,
setelah bertemu dengan burung ini ketika pulang kami seperti berasa diantar
sampai Pasar Dieng..Tapiii, naasnya ketika sampai di daerah Pasar Dieng saat
hendak turun kami sempat salah arah...sempat sedikit takut juga sih apalagi
waktu itu kabut mulai turun,..mulut ini semakin komat kamit baca
do’a....setelah sekitar 2x berputar mencari jalan akhirnya kami menemukan
gerbang awal yg disitulah patokannya untuk turun kembali...Alhamdulillah.
Perjalanan turun memang lebih
cepat, sekitar pukul 12 kami sudah kembali ke tempat camp...kami langsung
bongkar tenda dan packing...packing selesai, saya dan prista mulai memasak mie
telor, karena perut masih sedikit kenyang sama nasi pecel mbok yem tadi...Well, masakan matang,
serbuuu...hahaha...belum 5 menit selesai makan, hujan turun tiba2, sempat bikin
galau buat turun..hahaha...untungnya hujannya cuma numpang lewat, kami semua
memutuskan pakai jas hujan biar gak ribet kalo hujan turun tiba2 lagi...
Sekitar pukul 14.30 WIB kami
beranjak meninggalkan Bulak Peperangan, benar saja, baru 7 menit berjalan hujan
mengguyur dengan derasnya..mau gak mau tetep kudu jalan,..yaaah, perjalanan pas
hujan kaya’ gini emang serba salah..hahaha...mau berhenti dingin rawan hypo,
jadi kudu tetep jalan...kami hanya berhenti di tiap posnya...dan hanya minum 1x
dari atas sampai basecamp...#woow...Dalam hati sepanjang perjalanan saya terus
berharap “jangan sampai melewati pos 2 waktu magrib..sereem euy”...
Hujan tidak kunjung reda, dari
pos 5 sampai 3 tidak ada masalah, dari pos 3 ke pos 2 yg notabene berupa hutan
lebat cukup membuat kami ragu karena tidakmkunjung sampai, ditambah kabut yg
menemani perjalanan membuat saya berpikir yg tidak2...Mungkin karena efek lelah
juga, di sebuah persimpangan si prista mengambil jalur ke arah kiri padahal
dibawahnya sudah dipasang palang pohon2 yg berarti tidak boleh
dilalui...”Jalurnya sini dek”, tegur saya sambil menunjuk ke sisi kanan karena
saya melihat ada tali rafia terpasang di pohon di sebelah kanan..”Loh, itu
dibawah keliatan mbak posnya”, jawabnya...padahal saya tidak melihat ada
bangunan apapun ditempat yg ia tunjuk..#merinding lagi dah jadinya...”lewat
sini aja yg udah pasti benernya, takutnya sebelah situ curam”, begitu jawab
saya sekenanya...dan mencoba kembali tenang...#haha...akhirnya perjalanan
dilanjutkan sesuai jalur yg saya tunjuk...sekarang ganti saya dan mas ucil yg
melihat pos 2 dari kejauhan yg ketika semakin dekat ternyata hanya
kabut..disitu ssya berharap menemukan plang/sampah plastik pendaki, setidaknya
dapat meyakinkan saya bahwa jalur yg kami lewati kali ini benar... Saya terus
melirik jam tangan, suasana sepi hanya hujan dan kabut yg terus menemani
langkah kami, Alhamdulillah jam 16.30 kami tiba di pos 2 yg sebenarnya, kami
tidak berhenti kali ini dan terus melanjutkan perjalanan..Hawa di pos ini
memang sangat jauh berbeda, selalu membuat bulu roma brdiri tanpa sebab yg
pasti...
Dari pos 2 k pos 1 kami
berpikir akan tiba lebih cepat karena saat naik kami hanya butuh waktu 30
menit, tapi ternyata tidak pemirsa,,,malah 1 jam berjalan kami baru sampai di
pos 1, yaah..mungkin efek hujan yg membuat jalur semakin licin...Tak sekali dua
kali kami semua terpeleset yg mampu memecah sunyi dengan tawa..#hahaha...bahkan
membuat kami prosotan seperti anak kecil...:3.
Finally, sekitar pukul 18.10 WIB
kami tiba kembali di basecamp...tenggorokan kering, tangan lecet, kaki seperti
pinguin...yaaa kurang lebih seperti itu kondisi kami kala itu, tapi dibalik itu
semua pendakian kali ini menyimpan sejuta cerita istimewa buat saya pada
khususnya...#hahaha..
Dulu saya sering bingung ketika orang lain bertanya pada
saya, “Gunung apa yg paling indah dan kamu suka? “....Dan disini saya seperti
mendapatkan jawabannya, “Wukir Mahendra” ...Saya bersyukur tinggal di kakinya,
merasakan dingin hawanya, menyesap setiap sudut indahnya...Terimakasih
Tuhan,...
Sampai jumpa Lawu, dengan
segala mistis dan manismu.....kan kupastikan aku kembali memelukmu dengan
sejuta rindu dan cintaku... :*
![]() |
| Love youuuuu Lawu....:* |



