Selasa, 09 Februari 2016

Mistis Manismu Lawu via Candi Cetho

Mistis Manisnya Lawu via Candi Cetho

20 Januari 2016,
“Lawu via candi cetho...kapan yaaa-__-“ begitu kira2 isi status fb saya kala itu...
Ada 1 komen yg mnggelitik dari sahabat saya, sebut saja namanya Prista...ajakan untuk mendaki gunung yg sudah lama saya nanti diakhir Januari, tak lain tak bukan adalah pendakian Lawu jalur Cetho. Tanpa pikir panjang saya segera browsing dan mencari tiket menuju kota budaya, Solo. Tepat tgl 28 saya berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwosari dengan mengantongi tiket seharga Rp.155.000,- kelas ekonomi tentunya...#anak kos/rantau pasti nyari yg murah..hahaha. setelah sekitar 9 jam di kereta akhirnya saya sampaidi Surakarta,langsung menuju kos Prista di belakang UNS dan tidur bersiap untuk acara esoknya.

Sabtu, 30 Januari 2016
Tepat pukul 09.00 kami berangkat dari Solo, ngaret 1 jam sudah biasaaa...#hahaha. Sepanjang perjalanan menuju candi Cetho langit cerah, matahari bersinar terang, kupu2 beterbangan menemani kami...sungguh pemandangan yg well sekali pemirsa..:D. Oiya, FYI diantara kami berempat belum pernah ada yg mendaki lewat jalur candi cetho, hanya pernah berkunjung sampai Candi Cetho dan candi Ketheknya saja...jadi ya bisa dibilang modal nekat, tapi ya tetep safety...seminggu sebelumnya kami mencari informasi sebanyak2nya tentang jalur ini, membawa kompas, HT, peta, dan tali rafia sebagai tanda karena banyak yg bilang jalur ini rawan pendaki tersesat.
Tim saya kali ini hanya 4 orang, yaitu saya, Prista, Mas Ucil, dan Mas Anda. Basecamp pendakian berada di sisi kanan Candi Cetho, jadi bagi yang hendak menitipkan kendaraan dari loket ambil arah kanan lalu naik sedikit. Di sisi kanan jalan ada rumah bercat orange disitu basecampnya. Harga tiket untuk pendakian sebesar Rp.7000, tanpa disertai peta jalur pendakian,tapi tenang saja kita bisa mengambil foto dari peta yg terpasang di basecamp.
Peta jalur Lawu via Candi Cetho

Sebelum nanjak kami sempatkan berbincang dengan bapak pemilik basecamp, beliau menuturkan bahwa biasanya beliau hanya perlu waktu 4jam untuk sampai puncak...#wow..padahal normalnya dari website yg saya baca untuk sekali naik saja diperlukan waktu sekitar 13 jam....#clap hands for local people pokoknya mah...hhaha..selain itu, katanya jalur Cetho ini adalah gerbang/pintu depan dari Gunung Lawu. Sementara Jalur Cemoro Sewu yg biasa jadi favorit pendaki adalah jalur belakang, “orang bertamu itu kan yo harusnya dan sopannya lewat depan, bukan lewat belakang. Pintunya nanti pas di Pasar Dieng kalian akan ngeliat trap2/batu bersusun seperti tangga ya itu gerbangnya” begitu tuturnya...sempet merinding juga sih pas denger beginian...#hahaha..sudah bukan rahasia lagi bahwa gunung Lawu memang salah satu gunung yg dikeramatkan, bahkan ada yg menyebutkan gunung ini merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa.

Sekitar pukul 11 siang kami memulai pendakian dengan do’a dulu tentunya, jalur awal pendakian bisa masuk lewat Candi Cetho, bisa juga lewat sisi kanan Candi Cetho yg berupa ladang warga...kami mengambil jalur kanan karena berdasarkan penuturan Bapak tadi jalur ini lebih cepat, jalur Candi Cetho ini berupa tanah yg cukup licin bila hujan. Belum 15 menit berjalan, kami mendengar suara elang dan melihatnya terbang tinggi di langit biru...#subhanallah.., sayang kamera ini tak bisa menangkapnya...#huhuhu..perjalanan dilanjutkan melewati ladang penduduk dan berujung di sungai, dari sini kita menyebrang sungai dan mengambil jalur ke atas yg cukup curam. Setelah itu kita akan bertemu jalur yg lewat candi kethek.. jalur tetap menanjak dengan kemiringan sekitar 35o .setelah 1 jam berjalan kami sampai di pos 1 / Mbah Branti yg ditandai berupa shelter di sisi kiri jalan..saya tidak sempat bertanya kenapa nama pos ini dinamakan demikian, tetapi sepertinya pos dan nama ini memiliki cerita mistis tersendiri.. Menunggu adzan sembari beristirahat. Disini saya tersadar bahwa saya kedatangan “tamu bulanan”..wew..ujungnya saya dan prista sama2 gak sholat...#haha..sedikit tips buat yg nanjak tapi lagi “dapet” kaya’ saya, tetep positif thinking bahwa kita kuat, jangan ngebuang pembalut sembarangan, tapi bawa lagi turun, dan jangan sampai pikiran kita kosong....#ok

Pos 1. Mbah Branti....say hiiiii
Setelah beristirahat setengah jam dan narsis2 di pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2. Jalur mulai tertutup rapat dengan semak2 dan udah berasa “hutan”nya ...sementara jalur masih tetap tanah licin dengan tanjakan dan sesekali “bonus” alias jalan datar...#yuhuu..setengah jam berjalan kami sampai di pos 2/ Brakseng yg ditandai dengan pohon besar berbalut kain putih dan gubuk yg dibangun seperti bivak di ketinggian 2000 mdpl...
Pos 2. Brakseng....mistisnya berasaaaa......



Nuansa mistisnya berasaaaa banget, baru mau nglewatin pohon aja bulu kuduk saya langsung merinding dari bawah sampai atas...dinginnya dingin aneh..tapi saya diam saja pura2 gak ada apa2, pas udah nyampe bawah baru kita2 pada cerita...hahaha...baru 1 menit, gerimis tiba2 datang, kami berempat langsung berlindung di dalam bivak, dan tidak berapa lama ada rombongan lain datang sekitar 5 orang laki2 semua (Mas Fajar, Raka,dan tiga lagi saya lupa namanya..hahaha)..kami ngobrol ngalor ngidul didalam bivak, setelah sekitar 10 menit kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pos 3, sementara rombongan lain masih memutuskan beristirahat disitu lebih lama.
Jalur dari pos 2 ke pos 3 masih sama berupa tanjakan2 dengan kemiringan sekitar 60o., dengan sesekali masih ada track bonus dan terkadang harus melewati pohon tumbang di tengah jalur...selain itu, di sisi kiri-kanan jalan kita akan disuguhi hijaunya hutan lamtoro yg cukup tinggi dan justru mirip seperti hutan bambu...keceee dah menurut saya...:D.
Berasa lagi di tengah hutan bambu Jepang...ahahahay

Setelah 1,5 jam berjalan tibalah kami di pos 3/Cemoro Dowo dengan ketinggian 2250 mdpl. Sama halnya dengan pos 1 dan 2, di pos 3 ini juga terdapat shelter di sisi kiri jalan. Di pos ini dapat menampung sekitar 3 tenda. Disarankan untuk tidak bermalam di pos 1 ataupun 2, karena sangat kental dengan suasana mistisnya...#percaya deeh..haha. Di pos ini kami beristirahat agak lama, membuat teh hangat dan ngemil roti+kacang untuk mengisi tenaga, sambil menunggu para lelaki sholat ashar.
Selfie dulu laaah di pos 3....:D

Jam di tangan menunjukkan pukul 16.30, kami segera bergegas menuju pos 4 / Penggik Ondorante...Track semakin menanjak, beberapa kali kami harus melewati pohon tumbang di tengah jalur pendakian.
Berasa "hutan"nya...:3
Kondisi medan seperti ini membuat kami lebih sering beristirahat, 1 jam berjalan pos 4 belum nampak sementara senja mulai terlukis di langit timur, kami terduduk sebentar menikmati senja yg tertutup awan yg terlihat samar diantara pohon lamtoro dan edelweis yg belum kembang..Akhirnya sekitar jem 18.00, kami tiba di pos 4 di ketinggian 2500 mdpl. 
Berhenti sejenak menunggu magrib, dan melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini masing2 dari kami sudah memakai senter/headlamp mengingat jalur yg tertutup rapat dan hari sudah mulai gelap. Sebenarnya disini saya sudah merasa kurang enak karena berjalan malam, apalagi saya sedang kedatangan “tamu”, ditambah saya yg berjalan paling depan...#wew...saya mulai menepis pikiran2 negatif, sambil terus membaca-baca do’a dalam hati, setelah 45 menit berjalan, saya benar2 dikejutkan dengan pemandangan yg tertangkap oleh headlamp saya...awalnya saya kurang yakin dengan apa yg saya lihat, tapi ketika saya melihatnya kedua kali saya yakin dengan apa yg saya lihat...you know what i see??? Yaaa, seorang mbak2 berpakaian putih dengn rambut menutupi wajahnya dan hanya nampak setengah badan sedang berdiri di depan kiri jalur. Saya mencoba tetap tenang, agar yg lain tidak panik dan meminta mas ucil untuk berjalan didepan menggantikan saya...Ketika saya minta digantiin, eh dianya pake nanya “kenapa?” ...saya bilang aja “gak papa”...sepertinya dari muka sayapun dia paham tapi pura2 gak tau...#hahaha...kali ini posisi paling depan mas ucil, lalu prista, saya, dan paling belakang mas Anda. Belum 5 menit kejadian tadi, kali ini ganti prista...tiba2 saat beristirahat dia bertanya “itu apa sih disana, cahaya putih2 bentuknya kotak?” sambil menunjuk ke arah bawah jalur yg kami lewati tadi...disitu saya sedikit merinding juga sih karena saya tidak melihat apa2, begitupun mas ucil dan mas anda....#wew wew...
Kami langsung melanjutkan berjalan, kerana jika istirahat terlalu lama hawa dingin akan semakin terasa, vegetas yg awalnya cemara kini berubah sabana itu artinya pos 5 sudah dekat. Tapi didepan jalur tertutup oleh pohon tumbang yg lumayan besar...Membawa cariel dengan beban berat, sementara sebelah kiri adalah jurang membuat kami ekstra hati2 melewatinya...Saya di depan melepas cariel dulu dan melemparkannya melewati pohon tersebut untuk memudahkan melintas..berhasil! dilanjutkan prista, kali ini dia melewati dengan memeluk pohon itu sedikit lucu sih...gimanapun style nya yg penting aman...#hahaha..di depan sayup2 terdengar suara orang dan terlihat cahaya, alhamdulillah...berarti jalur yg kami lalui benar...awalnya saya sedikit ragu gara2 pohon tumbang besar tadi...#hahaha...
Akhirnya jam 20.00 kami sampai di pos 5 /Bulak Peperangan dg ketinggian 2850 mdpl. ..Tempat ini luaaaaaaaaaas banget, dan senengnya kami sudah disiapin lapak buat bikin tenda sama mas2 yg tadi bareng kita pas di pos 4...
Pos 5....Bulak Peperangan yg bener2 memikat
Angin disini bener2 kencang, tapi jika dibandingkan dinginnya. Masih dingin Lawu via Cemoro Sewu sih...#entahlah, saya ngerasanya begitu...hahaha..Mas Anda dan mas ucil bangun tenda, sementara saya dan prista memasak untuk makan malam.. Menu kali ini adalah tumis jamur, dan sarden telur orak-arik...enaaak, emang ya di gunung gak ada yg gak enak, adanya cuma enak sama enak benget,,,,hahaha...#efek laper dan lelah..
Perut kenyang, hati senang, waktunya bersiap untuk terlelap... kali ini si prista bawa2 aluminium foil buat ngebungkus kakinya, ceritanya biar gak dingin gitu,,setelah dibungkus al.foil udah kaya pepes, dia masuk SB lalu kainya masuk ke cariel..#wow banget ni anak batin saya..hahaha...sementara saya sengaja membawa 2 SB karena tau Lawu terkenal sebagai gunung terdingin se-pulau Jawa...Malam itu antara tidur-dan gak tidur...yaaa, seperti di gunung lain pada umumnya, saya selalu tidak bisa tidur terlalu lelap.,bahkan anehnya saya sempat merasa gerah di tengah malam...#haha..
Kabut manis nan mistis...
Minggu,31 Januari 2016
Well, rasa malas untuk bangun pagi melanda gegara badai dan hujan semalam, beruntung tenda gak bocor...hanya berembun di sisi kiri tepat Mas Anda tidur...#derita doi..hahaha.
Saya bangun paling awal karena harus mematikan alarm HP jam 05.00, dan membangunkan makhluk2 lain yaitu Mas Ucil dan Mas Anda yg notabene kudu sholat subuh, sementara prista ikut terbangun karena kakinya sempat kram gegara masuk carriel..#hahaha..ada2 aja...
Buka tenda, hawa dingin langsung menyapa disertai kabut yg menurut saya kereeen....kabut yg menyiratkan suasana mistis nan eksotis..#eaaa...baru beberapa menit, gerimis turun lagi, tapi untungnya sekitar pukul 06.30 hujan reda dan kami semua bersiap keluar tenda setelah membuat minuman hangat sembari berfoto2 ria...Subhanallah, saya benar2 jatuh cinta dengan pemandangan didepan mata saya...setelah sekitar 1 jam mengabadikan setiap sudut indahnya, kami bersiap muncak ke Hargo Dalem, ya target kami memang hanya untuk sarapan di warung Mbok Yem...karena setelah sekian kali naik Lawu kami berempat belum pernah mampir kesana...siapa sih yg gak pengen nyoba sarapan nasi pecel yg melegenda itu..kebayang kan gimana nikmatnya menyantap nasi pecel di ketinggian >3000 mdpl..#yummiii.... Kelar packing P3K, air minum, snack, dan barang berharga lantas kami berdo’a dan lngsung melanjutkan perjalanan, mengingat pendaki samping tenda kami berangkat tidak lama sebelum kami...Niatnya mau ngejar biar bareng, karena diantara rombongan tersebut ada yg sudah berkali2 naik Lawu via cetho...kan lumayan bisa bareng guide gratis sekalian saudara baru ceritanya...#hahaha..
Tanjakan cinta ala Lawu....
Dari Bulak Peperangan menuju Pasar Dieng kita akan disuguhkan pemandangan yg membuat mata dan hati jatuh cinta pada pandangan pertama..sekitar 5 menit berjalan dari tenda, kita akan dihadapkan tanjakan cinta, mirip yg ada di Semeru...selanjutnya dari sini kita ambil jalur ke arah kanan lalau sedikit belok ke kiri ke arah atas dan bersiaplah dikejutkan dengan sabana hijau yg luaaaaaaaaaaaas membentang....benar2 menyejukkan mata, dan menyulap siapapun yg melihatnya menjadi terpana dan bilang..”wow”, termasuk saya...#hahaha...
Adem gak tuh ngliatnya...hahaha
Sekitar 15 menit berjalan di sisi kiri jalur akan terlihat genangan air yg biasa disebut Tapak Menjangan, yg apabila sedang musim hujan akan terlihat seperti Ranu Kumbolo versi mini...sekali lagi bilang “wow..subhanallah”...hahaha. Disini saya gak sengaja inframe foto sama tetangga tenda sebelah, yg hasil jepretannya saya sukaaaaa sekali...hahaha...thanks to Mas Fajar..:3...
Asek2 ....reflection in Tapak Menjangan :)





Lanjut lagi mengarungi sabana yg seperti tidak ada habisnya, disini juga rawan pendaki tersesat loh, so keep focus and safety yak....lepas sabana kita akan melalui tanjakan yg kanan kirinya berupa pohon2 bekas kebakaran yg memberikan keunikannya tersendiri..









Hutan2 bekas kebakaran yg mistis tapi eksotis....
lalu sedikit naik, vegetasi didominasi pohon cantigi, menandakan sebentar lagi kita akan sampai di Pasar Dieng, benar saja terhitung sekitar 1 jam berjalan dari pos 5 kita akhirnya sampai di Pasar Dieng yg lumayan dikeramatkan...disini kami sempat menikmati buah cantigi yg berwarna ungu, rasanya mirip jambu sih...sepat2 enak..#hahaha..FYI, daun cantigi muda yg berwarna merah juga dapat digunakan untuk obat sakit perut, rasanya asem2 sepat...:D. Pasar Dieng disini mirip dengan Pasar Bubrah Merapi...jadi emang berupa hamparan batu, bedanya Cuma disini ada pohon cantiginya..tempat ini yg paling sering bikin tersesat karena minimnya plang petunjuk, dan sudut2 yg menurut saya mirip.
Gerbang di Pasar Dieng....wew
Sedikit tips ketika kesini adalah yg pertama temukan dulu plang bertuliskan Pasar Dieng, lalu lanjut ambil ke arah atas sedikit ke kiri, disana kita akan menemukan batu2 bersusun seperti gerbang disertai dengan tangga yg tersusun sangat rapi...sedikit merinding juga sih pas nglewatin ni bangunan di tengah Pasar Dieng, bener2 mirip sama yg diceritain Bapak di basecamp kemarin...langsung lanjut jalan ambil ke arah kiri setelah kita melewati gerbang ini, dan ikuti jalan setapak, dari sini Hargo Dalem sudah nampak dari kejauhan, sementara sisi kiri kita adalah sabana lagi...tak lama, sekitar 15 menit berjalan kita akhirnya sampai di Hargo dalem yg ditandai dengan tangga2 tersusun rapi yg berujung pada sebuah bangunan yg biasa dipakai untuk semedi/bertapa, kebanyakan bagi penganut kejawen...Kita langsung menuju Warung Mbok Yem karena perut sudah berontak dari tadi..#ahahahy..Okay, langsung pesen nutr*sari anget, gorengan 2, nasi pecel cukup bayar 16ribu..#murah meriah mantap...:) hahaha...
Sepiring nasi pecel hangat di ketinggian yg menggigilkan....:D

Oiya, dari hargo dalem menuju warung mbok yem kita cukup ambil arah ke kiri, sementara jika hendak ke rumah botol dari akhir tangga pertama ambil arah ke kanan...Disini kita akan sering bertemu burung jalak lawu yg konon adalah jelmaan dari Sunan Lawu...burung ini kerap membantu pendaki2 loh, seperti menuntun jalan gitu...termasuk kami, setelah bertemu dengan burung ini ketika pulang kami seperti berasa diantar sampai Pasar Dieng..Tapiii, naasnya ketika sampai di daerah Pasar Dieng saat hendak turun kami sempat salah arah...sempat sedikit takut juga sih apalagi waktu itu kabut mulai turun,..mulut ini semakin komat kamit baca do’a....setelah sekitar 2x berputar mencari jalan akhirnya kami menemukan gerbang awal yg disitulah patokannya untuk turun kembali...Alhamdulillah.
Perjalanan turun memang lebih cepat, sekitar pukul 12 kami sudah kembali ke tempat camp...kami langsung bongkar tenda dan packing...packing selesai, saya dan prista mulai memasak mie telor, karena perut masih sedikit kenyang sama nasi pecel mbok yem tadi...Well, masakan matang, serbuuu...hahaha...belum 5 menit selesai makan, hujan turun tiba2, sempat bikin galau buat turun..hahaha...untungnya hujannya cuma numpang lewat, kami semua memutuskan pakai jas hujan biar gak ribet kalo hujan turun tiba2 lagi...
Sekitar pukul 14.30 WIB kami beranjak meninggalkan Bulak Peperangan, benar saja, baru 7 menit berjalan hujan mengguyur dengan derasnya..mau gak mau tetep kudu jalan,..yaaah, perjalanan pas hujan kaya’ gini emang serba salah..hahaha...mau berhenti dingin rawan hypo, jadi kudu tetep jalan...kami hanya berhenti di tiap posnya...dan hanya minum 1x dari atas sampai basecamp...#woow...Dalam hati sepanjang perjalanan saya terus berharap “jangan sampai melewati pos 2 waktu magrib..sereem euy”...

Hujan tidak kunjung reda, dari pos 5 sampai 3 tidak ada masalah, dari pos 3 ke pos 2 yg notabene berupa hutan lebat cukup membuat kami ragu karena tidakmkunjung sampai, ditambah kabut yg menemani perjalanan membuat saya berpikir yg tidak2...Mungkin karena efek lelah juga, di sebuah persimpangan si prista mengambil jalur ke arah kiri padahal dibawahnya sudah dipasang palang pohon2 yg berarti tidak boleh dilalui...”Jalurnya sini dek”, tegur saya sambil menunjuk ke sisi kanan karena saya melihat ada tali rafia terpasang di pohon di sebelah kanan..”Loh, itu dibawah keliatan mbak posnya”, jawabnya...padahal saya tidak melihat ada bangunan apapun ditempat yg ia tunjuk..#merinding lagi dah jadinya...”lewat sini aja yg udah pasti benernya, takutnya sebelah situ curam”, begitu jawab saya sekenanya...dan mencoba kembali tenang...#haha...akhirnya perjalanan dilanjutkan sesuai jalur yg saya tunjuk...sekarang ganti saya dan mas ucil yg melihat pos 2 dari kejauhan yg ketika semakin dekat ternyata hanya kabut..disitu ssya berharap menemukan plang/sampah plastik pendaki, setidaknya dapat meyakinkan saya bahwa jalur yg kami lewati kali ini benar... Saya terus melirik jam tangan, suasana sepi hanya hujan dan kabut yg terus menemani langkah kami, Alhamdulillah jam 16.30 kami tiba di pos 2 yg sebenarnya, kami tidak berhenti kali ini dan terus melanjutkan perjalanan..Hawa di pos ini memang sangat jauh berbeda, selalu membuat bulu roma brdiri tanpa sebab yg pasti...

Dari pos 2 k pos 1 kami berpikir akan tiba lebih cepat karena saat naik kami hanya butuh waktu 30 menit, tapi ternyata tidak pemirsa,,,malah 1 jam berjalan kami baru sampai di pos 1, yaah..mungkin efek hujan yg membuat jalur semakin licin...Tak sekali dua kali kami semua terpeleset yg mampu memecah sunyi dengan tawa..#hahaha...bahkan membuat kami prosotan seperti anak kecil...:3.
Finally, sekitar pukul 18.10 WIB kami tiba kembali di basecamp...tenggorokan kering, tangan lecet, kaki seperti pinguin...yaaa kurang lebih seperti itu kondisi kami kala itu, tapi dibalik itu semua pendakian kali ini menyimpan sejuta cerita istimewa buat saya pada khususnya...#hahaha..

Dulu saya sering bingung ketika orang lain bertanya pada saya, “Gunung apa yg paling indah dan kamu suka? “....Dan disini saya seperti mendapatkan jawabannya, “Wukir Mahendra” ...Saya bersyukur tinggal di kakinya, merasakan dingin hawanya, menyesap setiap sudut indahnya...Terimakasih Tuhan,...

Sampai jumpa Lawu, dengan segala mistis dan manismu.....kan kupastikan aku kembali memelukmu dengan sejuta rindu dan cintaku... :* 
Love youuuuu Lawu....:*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar