Senin, 26 September 2016

Menyelamatkan Hati di Gunung Slamet

Menyelamatkan Hati di Gunung Slamet
“Sudah saatnya aku kembali ke pelukan dingin
Biar ia membekukannya
Biar Slamet menyelamatkannya”

Yaaa, kira-kira itulah curahan hati saya di facebook 4 Mei 2016...galau melanda guys...#hahaha
Beruntung saat galau teman saya, si Bekti ngajakin ke Slamet...pas banget dah..
Emang, buat saya obat galau paling ampuh tuh ya Naik Gunung, ya gak para pendaki??...:D
Yosh, tiket ke Stasiun Pemalang sudah di tangan,..Kenapa kita beli tiket tujuan Pemalang padahal mau naiknya Gunung Slamet? Karena kita berencana mau mampir di rumah Bekti..lumayanlah, numpang makan dan nginep gratis...hahaha
Oiya, tim kita kali ini terdiri dari 7 orang dengan 3 lokasi dan transportasi berbeda...Saya,Bekti, dan Uha berangkat dari Bogor naik kereta ; Karyo dan Mas Heri dari Cirebon bawa mobil, sementara Mas Andre dan Mas Surya motoran karena lokasinya sama2 di Pemalang...Meeting pointnya ya pastinya di rumah Bekti..
Kamis, 4 Mei 2016
Saya, Bekti, dan Uha janjian untuk bertemu di Stasiun Pasar Senen..kereta kami dijadwalkan berangkat pukul 23.00 WIB. Malam itu stasiun penuh sesak, banyak ibu2 dan keluarganya yang sepertinya akan pulang kampung (tgl 5,6,7 tanggal merah), dan tentunya para pendaki dengan tas setinggi kepala alias carrier seperti yang kami pakai saat itu... Perasaan saya begitu bersemangat, maklum sudah 3 bulan gak ngegendong tas berat ataupun nyium hawa gunung...#hahaha...Well, keretapun berjalan perlahan dan tak berapa lama kian melaju kencang... Mata masih sepet banget rasanya, saya melirik ke bangku sebelah dan ternyata si Uha juga tidur lelap, sayapun memutuskan untuk tidur lagi...baru setengah perjalanan, di jadwal kami akan tiba pukul 04.00, tapi ternyata kereta terlambat...kami sampai di Stasiun Pemalang sekitar pukul 04.30 dan untungnya si karyo dan Mas Heri udah nunggu disana dari 1 jam lalu...hahaha..
Jum’at, 5 Mei 2016
Sholat subuh, packing barang di mobil, ngobrol2 sambil menyusuri kota Pemalang yang masih gelap dan sepi..sayup2 dari jauh terlihat gunung Slamet dari kejauhan...makin semangat rasanaya..yah, walaupun kita masih galau mau naik lewat jalur Jurangmangu atau Guci atau malah banting setir ke Bukit Samoan...#galauan rek.. Kami sampai di rumah Bekti sekitar pukul 05.30, hawa disini seger beda banget dah pokknya mah sama di kota...#yaiyalah..adek2 bekti masih pada tidur, dan karena kedatangan kami di pagi itu mereka jadi terbangun dari mimpi indahnya...#maap ya Debi,Elsi,Dika...:3. Disambut dengan ramah dan penuh makanan yang disajikan oleh Ibu dan Bapak Bekti membuat kami berasa di rumah sendiri...:). Sekarang tinggal nunggu 2 personil lagi, Mas Andre dan Mas Surya..tapi kabar buruknya mereka bisanya sampai disini sebahis Jum’atan...-__- habis Jum’atan mereka berdua tak kunjung datang, saya merasa bosan dan memutuskan untuk tidur saja, termasuk Uha,dkk...Jam 3 sore terbangun gara2 suara ribut, ternyata Mas Andre dan Mas Surya baru dateng..heuuu..re-packing, sholat ashar, masukin carier ke mobil, dan kamipun bersiap untuk berangkat..Diputuskan untuk naik via jalur Guci setelah lama bergalau ria, dengan pertimbangan : mau ngrasain naik Slamet via jalur lain selain Bambangan, dan pengen main ke pemandian air panas Guci, kan enak tuh turun gunung badan pegel2 berendam di air panas yang alami,rasa capek pasti berkurang :)
Mobil melaju kencang menuju Kabupaten Tegal, karena jalur Guci ini sudah masuk wilayah Tegal, bukan Pemalang...di tengah perjalanan hujan sempat mengguyur dan sedikit membuat kami berkecil hati,..berharap ketika kami tiba disana hujan berhenti. Dan alhamdulillah, sekitar pukul 17.30 kami tiba di basecamp GUPALA setelah sebelumnya membayar retribusi di gerbang masuk wisata Guci sebesar 85K. Di basecamp, kami istirahat sembari menunggu adzan magrib. Hawa disini menggoda untuk tidak naik, enaknya buat ngecamp...hahaha.. Selepas sholat magrib, kami registrasi untuk mendaki dan membayar 105K untuk 7 orang. Cukup mahal kalo kata saya mah, tapi ya mau gimana lagi begitu ketentuannya...-_-
FULL TEAM !
Dari ki-ka : Surya,Andre,Uha,Susan,Bekti,Heri,Karyo
Yosh, akhirnya jam di tangan menunjukkan pukul 19.30 WIB dan kamipun dengan segenap jiwa dan raga #ceileh ...mulai melangkah perlahan menyusuri jalan sesuai peta yang diberikan oleh pihak basecamp..
Peta Jalur Pendakian Slamet via GUCI

Setelah kurang lebih 15 menit , kami tiba di pintu hutan dan mengikuti jalur berbatu. Perjalanan malam membuat tanjakan tidak terlalu berasa, hanya saja tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain mendongak ke atas dan melihat taburan bintang dan cantiknya bulan menghiasi gelapnya langit kala itu.. nafas mulai menderu, suara yang tadinya ramai kian sunyi karena menghemat tenaga ceritanya...Lagi-lagi saya yang berjalan paling depan, diikuti Bekti, Uha, Mas Heri, Mas Karyo, Mas Andre dan Mas Surya...Jalan masih trek berbatu,lumayan banyak percabangan jadi kudu ekstra fokus...
Daaan jeng-jeng,kejadian seperti Lawu via cetho kemarin terulang lagi..-__- Di percabangan Kali Asat ketika saya menoleh ke kanan saya bertemu “mbak2” itu lagi..Memang dalam tim ini ada yang lagi “dapet”, tapi kok ya saya yg harus ngeliat...-_- . karena kaget, saya minta buat ganti cowok yg paling depan, tapi gak ada yg peka...ujung2nya malah Bekti yg ganti depan...yaaa mau gimana lagi, yg penting bukan saya dah yg paling depan lagi..#hahaha...Belum lama berjalan, kami mulai terpecah menjadi 2 tim..Bekti,saya,uha,dan mas heri ada di depan...sementara 3 lainnya di belakang.

Setelah 90 menit berjalan, pukul 21.00 kami tiba di pos 1 (Pinus-1500 mdpl)...Alhamdulillah, vegetasi disini berupa pinus2 tinggi yg menurut saya jika siang pasti indah, sayangnya malem yg ada malah serem..#haha...Istirahat sejenak meluruskan kaki, melepas beban di punggung, menikmati semilir angin bersama buah jeruk...ah, segernya..:). Hampir 20 menit kami beristirahat disini, tiba2 Karyo berkata dia mau turun alias tidak melanjutkan pendakian..kami semua kaget, dan membujuk buat tidak turun..Tapi, keputusan Karyo sepertinya sudah bulat,”Bukan masalah positif thinking, bukan masalah capek, tapi saya merasa dada saya sesak dan panas,tidak seperti biasanya walaupun sudah beristirahat, kalo kondisinya kaya’ gini pilihannya cuma 2,,saya tidur disini sampai pagi atau saya turun, yg jelas saya tidak naik. Maaf teman2, saya yg paling tahu tubuh saya sendiri”, begitu kira2 kalimatnya saat itu. Sempat tersentak sih...semua terdiam...kecewa? mungkin iya, tapi kalau dipikir secara mendalam memang seperti itulah keadaanya, tak bisa dipaksakan. Untuk turun semua tentu juga tidak mungkin, kasihan Uha yang belum pernah naik Slamet. Akhirnya diputuskan, Mas Heri akan menemani Karyo turun, terlalu berbahaya untuk turun sendiri dengan kondisi Karyo seperti itu. Re-packing, dan tepat pukul 21.30 kami dengan berat hati merelakan Karyo dan Mas Heri untuk kembali turun. Sesak juga sih sebenarnya, secara kita berangkat bareng, baiknya juga pulang bareng, tapi apa daya. 
Perjalanan dilanjutkan, kami memasuki hutan dengan semak belukar yang cukup tinggi, hujan tadi sore membuat daun2 basah dan membuat celana kami ikut basah...asal gak ada lintah aja buat aku mah..sempat dengar kalo via Jurangmangu banyak lintah alias pacet, untuung aja gak lewat sana, batin saya...#hahaha
Saya merasa jenuh dengan jalur yg kaya’ begini, benar2 dah baru kali ini saya merasa bosan dalam pendakian..jalur tanah sempit, disamping kiri kanan semak belukar tinggi yg juga turut menutupi jalan setapak, membuat kaki berat untuk melangkah, belum lagi tetesan sisa hujan yg berhasil membuat celana basah...-_-. Setelah berjalan selama 1 jam, akhirnya kami tiba di pos 2 (Cemara-1850 mdpl)yaitu sekitar pukul 22.30. Istirahat sejenak, mata saya mulai mengantuk, saya kira kami akan membangun tenda disini. Ternyata, mereka sengaja pura2 tidak melihat saya mengantuk, membujuk untuk tetap berjalan sampai Pos 3...hwaaaa...rasanya pengen saya teriak, tapi kalau dilihat dari peta memang perjalanan masih sangat jauh untuk sampai puncak, setidaknya malam ini kami harus sudah sampai tiba di ketinggian 2000an. Akhirnya kaki saya paksa untuk jalan, sambil dalam hati berteriak,”pengen tiduuur” hahaha...tapi gak ada yg denger..#yaiyalah..
Akhirnya setelah 90 menit berjalan, terlihat cahaya dari kejauhan, Pos 3 (Pasang-2129 mdpl)..Alhamdulillah,,,Tempat ini lumayan lapang, bisa untuk mendirikan 6-7 tenda. Tiba-bongkar carrier-ada yg masak,ada yg bikin tenda. Tenda jadi, masakan matang. Well, it’s dinner time...menu makan malam kali ini scalop,bakso goreng,sop, dan sambal spesial bikinan ibu bekti..yummiii..kelar makan, bersiap untuk tidur sekitar jam 01.00. Sementara, saya baru bisa terlelap jam 01.30 ketika semua sudah tidur..baru setengah jam tidur, saya terbangun gara2 Mas Andre dan Mas Surya “ketindihan”..-__-, tapi saya malas untuk bangun, mata merem lagi, bangun gara2 alarm jam 5...masih sepet, merem lagi, bangun2 jam setengah 6...buru2 bangunin Uha buat sholat subuh di luar..>_<. Beres2 SB, ambil pisau, nyalakan kompor..mari masaaak! Masakan matang, sarapan, packing barang buat summit dan melangkah lagi sekitar pukul 09.30.
It's breakfast time :D
@terowongan celeng
 Perjalanan dari pos 3 ke pos 4 lumayan panjang, pemandangan di kanan-kiri masih sama seperti kemarin. Hanya terlihat tanaman perdu dan pohon. Ah, kenapa saya merasa begitu bosan dengan jalur ini. Beberapa menit sebelum pos 4 kami meleawati jaur yang unik, namanya “terowongan celeng (babi)”, sedikit mengingatkan saya pada jalur Kerinci, dimanan untuk melewati terowongan ini kita harus menunduk bahkan merayap kalo bawa carrier..seruu. 

Akhirnya sekitar pukul 11 kami sampai di pos 4 (Kematus) dan bertemu dengan rombongan keluarga pendaki yang terdiri dari Ayah,Ibu, dan 2 orang anak..Ah, bikin mupeng deh..Berharap suatu hari nanti bisa bikin keluarga seperti mereka. Aamiin. Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan meenuju pos 5. Dua jam perjalanan, sampailah kami di pos 5 (Cantigi). Dari sini jika kita memandang ke atas 45 derajat kita sudah bisa melihat trek meuju puncak berupa batu2 merah khas Gunung Slamet. Puncak yang dicapai langung dari jalur ini bukanlah puncak slamet sebenarnya, tapi puncak kawah. Dimana jika kita ingin mencapai puncak Slamet, dari puncak kawah kita masih harus berjalan menyusuri kawah dan perlu ekstra hati-hati. 

Di pos 5 kami istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Cuaca sepertinya tidak mendukung, langit mulai kelabu, jam menunjukkan pukul 14.15. Hati saya resah, galu gitu ceritanya teh..tiba2 terbersit, sepertinya kali ini gagal muncak. Tapi waktu itu kami mencoba untuk tetap mendaki.
Btu-batu merah khas Gunung Slamet
 Menapaki batu2 merah yang kadang rapuh, berpegangan kuat pada batu besar ala2 climbing gitu.. seneng sih sebenernya, tapi... Tiba2 kabut mulai turun, saya mulai galau lagi. Berkali-kali saya melihat jam di tangan. Waktu sudah terlalu sore, kabut turun, dan gerimis mulai ikut beradu dengan angin. Hujan mulai deras, kami segera memakai raincoat masing2. Suara halilintar memecah sunyinya jalur itu, karena hanya rombongan kami yang naik. Asli galau banget, saya berhenti sendiri dan terpaku di balik bongkahan batu besar sambil menatap ke bawah. Bekti,dan Uha berhenti diatas saya. Sementara Mas Andre dan Mas Surya adi di bawah saya. Jarak saya dengan mereka cukup jauh,saya berada ditengah, hujan semakin deras, tiba2 seperti ada yang memegang bahu saya. Entah halusinasi saya saja atau apa saya tidak tahu, yang jelas ketika saya menoleh karena “sentuhan” itu tidak ada seorangpun. Daaaan, tiba2 saja saya berurai air mata tanpa alasan yang saya sendiri tidak tahu kenapa. Saya mencoba berhenti menangis, tapi tidak bisa. Melihat itu teman2 serombongan mulaikhawatir dan menghampiri saya. Mereka terus bertanya “kenapa?”, dan saya tidak tahu jawabannya. Melihat kondisi itu, saya memutuskan untuk turun sendiri alias gak muncak. Banyak yg meyakinkan saya sih buat terus naik “Sayang loh, tinggal setengah jam lagi puncak”. Tapi entahlah, saya kala itu bener2 gak mood buat muncak, gak tau kenapa. Baru saat itu saya mengalami hal seperti ini. Akhirnya Mas Andre memutuskan untuk turun kebawah nemenin saya, awalnya saya ngotot mau turun sendiri tapi gak dibolehin, safety first guys, Jangan pernah meninggalkan rekanmu sendirian di gunung. Sementara Bekti dan Mas Surya memutuskan untuk nemenin Uha ke puncak karena belum pernah.  Sekitar 15 menit berjalan turun, ternyata gak semudah waktu naik, dan rawan banget kesasar. Kalo saya turun sendiri dalam kondisi cuaca seperti itu yaa wassalam mungkin. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas. Ternyata mereka bertiga tidak jadi muncak juga. Emang sih, dalam kondisi dan cuaca kaya gitu sepertinya gak memungkinkan. Kalaupun bisa samapai puncak, itupun juga pasti pas magrib, gak dapet view, cuaca ekstrim, ngeri turunnya. Dalam hati saya merasa bersalah, “apa ini gara2 saya? Maaf yaa” begitu kata saya sambil sesenggukan dikit. Tapi mereka menjawab dengan santai “gak kok, udah jangan nangis, nanti kapan2 muncak sini lagi”. Lega, bahagia, ya walaupun masih sedikit merasa bersalah, tapi lama2 kami ketawa2 lagi gara2 jalur “jegluk-jegluk akar dan turunan tajam”.


"Tujuan akhir dari mendaki bukanlah puncak, tapi kembali ke rumah dengan selamat!
Pikirkan safety, bukan ego diri!
Berangkat bareng – pulang bareng! "



Terimakasih untuk pendakian kedua ini, Slamet (via Guci) . ..

Selasa, 09 Februari 2016

Mistis Manismu Lawu via Candi Cetho

Mistis Manisnya Lawu via Candi Cetho

20 Januari 2016,
“Lawu via candi cetho...kapan yaaa-__-“ begitu kira2 isi status fb saya kala itu...
Ada 1 komen yg mnggelitik dari sahabat saya, sebut saja namanya Prista...ajakan untuk mendaki gunung yg sudah lama saya nanti diakhir Januari, tak lain tak bukan adalah pendakian Lawu jalur Cetho. Tanpa pikir panjang saya segera browsing dan mencari tiket menuju kota budaya, Solo. Tepat tgl 28 saya berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwosari dengan mengantongi tiket seharga Rp.155.000,- kelas ekonomi tentunya...#anak kos/rantau pasti nyari yg murah..hahaha. setelah sekitar 9 jam di kereta akhirnya saya sampaidi Surakarta,langsung menuju kos Prista di belakang UNS dan tidur bersiap untuk acara esoknya.

Sabtu, 30 Januari 2016
Tepat pukul 09.00 kami berangkat dari Solo, ngaret 1 jam sudah biasaaa...#hahaha. Sepanjang perjalanan menuju candi Cetho langit cerah, matahari bersinar terang, kupu2 beterbangan menemani kami...sungguh pemandangan yg well sekali pemirsa..:D. Oiya, FYI diantara kami berempat belum pernah ada yg mendaki lewat jalur candi cetho, hanya pernah berkunjung sampai Candi Cetho dan candi Ketheknya saja...jadi ya bisa dibilang modal nekat, tapi ya tetep safety...seminggu sebelumnya kami mencari informasi sebanyak2nya tentang jalur ini, membawa kompas, HT, peta, dan tali rafia sebagai tanda karena banyak yg bilang jalur ini rawan pendaki tersesat.
Tim saya kali ini hanya 4 orang, yaitu saya, Prista, Mas Ucil, dan Mas Anda. Basecamp pendakian berada di sisi kanan Candi Cetho, jadi bagi yang hendak menitipkan kendaraan dari loket ambil arah kanan lalu naik sedikit. Di sisi kanan jalan ada rumah bercat orange disitu basecampnya. Harga tiket untuk pendakian sebesar Rp.7000, tanpa disertai peta jalur pendakian,tapi tenang saja kita bisa mengambil foto dari peta yg terpasang di basecamp.
Peta jalur Lawu via Candi Cetho

Sebelum nanjak kami sempatkan berbincang dengan bapak pemilik basecamp, beliau menuturkan bahwa biasanya beliau hanya perlu waktu 4jam untuk sampai puncak...#wow..padahal normalnya dari website yg saya baca untuk sekali naik saja diperlukan waktu sekitar 13 jam....#clap hands for local people pokoknya mah...hhaha..selain itu, katanya jalur Cetho ini adalah gerbang/pintu depan dari Gunung Lawu. Sementara Jalur Cemoro Sewu yg biasa jadi favorit pendaki adalah jalur belakang, “orang bertamu itu kan yo harusnya dan sopannya lewat depan, bukan lewat belakang. Pintunya nanti pas di Pasar Dieng kalian akan ngeliat trap2/batu bersusun seperti tangga ya itu gerbangnya” begitu tuturnya...sempet merinding juga sih pas denger beginian...#hahaha..sudah bukan rahasia lagi bahwa gunung Lawu memang salah satu gunung yg dikeramatkan, bahkan ada yg menyebutkan gunung ini merupakan pusat kegiatan spiritual di tanah Jawa.

Sekitar pukul 11 siang kami memulai pendakian dengan do’a dulu tentunya, jalur awal pendakian bisa masuk lewat Candi Cetho, bisa juga lewat sisi kanan Candi Cetho yg berupa ladang warga...kami mengambil jalur kanan karena berdasarkan penuturan Bapak tadi jalur ini lebih cepat, jalur Candi Cetho ini berupa tanah yg cukup licin bila hujan. Belum 15 menit berjalan, kami mendengar suara elang dan melihatnya terbang tinggi di langit biru...#subhanallah.., sayang kamera ini tak bisa menangkapnya...#huhuhu..perjalanan dilanjutkan melewati ladang penduduk dan berujung di sungai, dari sini kita menyebrang sungai dan mengambil jalur ke atas yg cukup curam. Setelah itu kita akan bertemu jalur yg lewat candi kethek.. jalur tetap menanjak dengan kemiringan sekitar 35o .setelah 1 jam berjalan kami sampai di pos 1 / Mbah Branti yg ditandai berupa shelter di sisi kiri jalan..saya tidak sempat bertanya kenapa nama pos ini dinamakan demikian, tetapi sepertinya pos dan nama ini memiliki cerita mistis tersendiri.. Menunggu adzan sembari beristirahat. Disini saya tersadar bahwa saya kedatangan “tamu bulanan”..wew..ujungnya saya dan prista sama2 gak sholat...#haha..sedikit tips buat yg nanjak tapi lagi “dapet” kaya’ saya, tetep positif thinking bahwa kita kuat, jangan ngebuang pembalut sembarangan, tapi bawa lagi turun, dan jangan sampai pikiran kita kosong....#ok

Pos 1. Mbah Branti....say hiiiii
Setelah beristirahat setengah jam dan narsis2 di pos 1, kami lanjutkan perjalanan ke pos 2. Jalur mulai tertutup rapat dengan semak2 dan udah berasa “hutan”nya ...sementara jalur masih tetap tanah licin dengan tanjakan dan sesekali “bonus” alias jalan datar...#yuhuu..setengah jam berjalan kami sampai di pos 2/ Brakseng yg ditandai dengan pohon besar berbalut kain putih dan gubuk yg dibangun seperti bivak di ketinggian 2000 mdpl...
Pos 2. Brakseng....mistisnya berasaaaa......



Nuansa mistisnya berasaaaa banget, baru mau nglewatin pohon aja bulu kuduk saya langsung merinding dari bawah sampai atas...dinginnya dingin aneh..tapi saya diam saja pura2 gak ada apa2, pas udah nyampe bawah baru kita2 pada cerita...hahaha...baru 1 menit, gerimis tiba2 datang, kami berempat langsung berlindung di dalam bivak, dan tidak berapa lama ada rombongan lain datang sekitar 5 orang laki2 semua (Mas Fajar, Raka,dan tiga lagi saya lupa namanya..hahaha)..kami ngobrol ngalor ngidul didalam bivak, setelah sekitar 10 menit kami berempat melanjutkan perjalanan menuju pos 3, sementara rombongan lain masih memutuskan beristirahat disitu lebih lama.
Jalur dari pos 2 ke pos 3 masih sama berupa tanjakan2 dengan kemiringan sekitar 60o., dengan sesekali masih ada track bonus dan terkadang harus melewati pohon tumbang di tengah jalur...selain itu, di sisi kiri-kanan jalan kita akan disuguhi hijaunya hutan lamtoro yg cukup tinggi dan justru mirip seperti hutan bambu...keceee dah menurut saya...:D.
Berasa lagi di tengah hutan bambu Jepang...ahahahay

Setelah 1,5 jam berjalan tibalah kami di pos 3/Cemoro Dowo dengan ketinggian 2250 mdpl. Sama halnya dengan pos 1 dan 2, di pos 3 ini juga terdapat shelter di sisi kiri jalan. Di pos ini dapat menampung sekitar 3 tenda. Disarankan untuk tidak bermalam di pos 1 ataupun 2, karena sangat kental dengan suasana mistisnya...#percaya deeh..haha. Di pos ini kami beristirahat agak lama, membuat teh hangat dan ngemil roti+kacang untuk mengisi tenaga, sambil menunggu para lelaki sholat ashar.
Selfie dulu laaah di pos 3....:D

Jam di tangan menunjukkan pukul 16.30, kami segera bergegas menuju pos 4 / Penggik Ondorante...Track semakin menanjak, beberapa kali kami harus melewati pohon tumbang di tengah jalur pendakian.
Berasa "hutan"nya...:3
Kondisi medan seperti ini membuat kami lebih sering beristirahat, 1 jam berjalan pos 4 belum nampak sementara senja mulai terlukis di langit timur, kami terduduk sebentar menikmati senja yg tertutup awan yg terlihat samar diantara pohon lamtoro dan edelweis yg belum kembang..Akhirnya sekitar jem 18.00, kami tiba di pos 4 di ketinggian 2500 mdpl. 
Berhenti sejenak menunggu magrib, dan melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini masing2 dari kami sudah memakai senter/headlamp mengingat jalur yg tertutup rapat dan hari sudah mulai gelap. Sebenarnya disini saya sudah merasa kurang enak karena berjalan malam, apalagi saya sedang kedatangan “tamu”, ditambah saya yg berjalan paling depan...#wew...saya mulai menepis pikiran2 negatif, sambil terus membaca-baca do’a dalam hati, setelah 45 menit berjalan, saya benar2 dikejutkan dengan pemandangan yg tertangkap oleh headlamp saya...awalnya saya kurang yakin dengan apa yg saya lihat, tapi ketika saya melihatnya kedua kali saya yakin dengan apa yg saya lihat...you know what i see??? Yaaa, seorang mbak2 berpakaian putih dengn rambut menutupi wajahnya dan hanya nampak setengah badan sedang berdiri di depan kiri jalur. Saya mencoba tetap tenang, agar yg lain tidak panik dan meminta mas ucil untuk berjalan didepan menggantikan saya...Ketika saya minta digantiin, eh dianya pake nanya “kenapa?” ...saya bilang aja “gak papa”...sepertinya dari muka sayapun dia paham tapi pura2 gak tau...#hahaha...kali ini posisi paling depan mas ucil, lalu prista, saya, dan paling belakang mas Anda. Belum 5 menit kejadian tadi, kali ini ganti prista...tiba2 saat beristirahat dia bertanya “itu apa sih disana, cahaya putih2 bentuknya kotak?” sambil menunjuk ke arah bawah jalur yg kami lewati tadi...disitu saya sedikit merinding juga sih karena saya tidak melihat apa2, begitupun mas ucil dan mas anda....#wew wew...
Kami langsung melanjutkan berjalan, kerana jika istirahat terlalu lama hawa dingin akan semakin terasa, vegetas yg awalnya cemara kini berubah sabana itu artinya pos 5 sudah dekat. Tapi didepan jalur tertutup oleh pohon tumbang yg lumayan besar...Membawa cariel dengan beban berat, sementara sebelah kiri adalah jurang membuat kami ekstra hati2 melewatinya...Saya di depan melepas cariel dulu dan melemparkannya melewati pohon tersebut untuk memudahkan melintas..berhasil! dilanjutkan prista, kali ini dia melewati dengan memeluk pohon itu sedikit lucu sih...gimanapun style nya yg penting aman...#hahaha..di depan sayup2 terdengar suara orang dan terlihat cahaya, alhamdulillah...berarti jalur yg kami lalui benar...awalnya saya sedikit ragu gara2 pohon tumbang besar tadi...#hahaha...
Akhirnya jam 20.00 kami sampai di pos 5 /Bulak Peperangan dg ketinggian 2850 mdpl. ..Tempat ini luaaaaaaaaaas banget, dan senengnya kami sudah disiapin lapak buat bikin tenda sama mas2 yg tadi bareng kita pas di pos 4...
Pos 5....Bulak Peperangan yg bener2 memikat
Angin disini bener2 kencang, tapi jika dibandingkan dinginnya. Masih dingin Lawu via Cemoro Sewu sih...#entahlah, saya ngerasanya begitu...hahaha..Mas Anda dan mas ucil bangun tenda, sementara saya dan prista memasak untuk makan malam.. Menu kali ini adalah tumis jamur, dan sarden telur orak-arik...enaaak, emang ya di gunung gak ada yg gak enak, adanya cuma enak sama enak benget,,,,hahaha...#efek laper dan lelah..
Perut kenyang, hati senang, waktunya bersiap untuk terlelap... kali ini si prista bawa2 aluminium foil buat ngebungkus kakinya, ceritanya biar gak dingin gitu,,setelah dibungkus al.foil udah kaya pepes, dia masuk SB lalu kainya masuk ke cariel..#wow banget ni anak batin saya..hahaha...sementara saya sengaja membawa 2 SB karena tau Lawu terkenal sebagai gunung terdingin se-pulau Jawa...Malam itu antara tidur-dan gak tidur...yaaa, seperti di gunung lain pada umumnya, saya selalu tidak bisa tidur terlalu lelap.,bahkan anehnya saya sempat merasa gerah di tengah malam...#haha..
Kabut manis nan mistis...
Minggu,31 Januari 2016
Well, rasa malas untuk bangun pagi melanda gegara badai dan hujan semalam, beruntung tenda gak bocor...hanya berembun di sisi kiri tepat Mas Anda tidur...#derita doi..hahaha.
Saya bangun paling awal karena harus mematikan alarm HP jam 05.00, dan membangunkan makhluk2 lain yaitu Mas Ucil dan Mas Anda yg notabene kudu sholat subuh, sementara prista ikut terbangun karena kakinya sempat kram gegara masuk carriel..#hahaha..ada2 aja...
Buka tenda, hawa dingin langsung menyapa disertai kabut yg menurut saya kereeen....kabut yg menyiratkan suasana mistis nan eksotis..#eaaa...baru beberapa menit, gerimis turun lagi, tapi untungnya sekitar pukul 06.30 hujan reda dan kami semua bersiap keluar tenda setelah membuat minuman hangat sembari berfoto2 ria...Subhanallah, saya benar2 jatuh cinta dengan pemandangan didepan mata saya...setelah sekitar 1 jam mengabadikan setiap sudut indahnya, kami bersiap muncak ke Hargo Dalem, ya target kami memang hanya untuk sarapan di warung Mbok Yem...karena setelah sekian kali naik Lawu kami berempat belum pernah mampir kesana...siapa sih yg gak pengen nyoba sarapan nasi pecel yg melegenda itu..kebayang kan gimana nikmatnya menyantap nasi pecel di ketinggian >3000 mdpl..#yummiii.... Kelar packing P3K, air minum, snack, dan barang berharga lantas kami berdo’a dan lngsung melanjutkan perjalanan, mengingat pendaki samping tenda kami berangkat tidak lama sebelum kami...Niatnya mau ngejar biar bareng, karena diantara rombongan tersebut ada yg sudah berkali2 naik Lawu via cetho...kan lumayan bisa bareng guide gratis sekalian saudara baru ceritanya...#hahaha..
Tanjakan cinta ala Lawu....
Dari Bulak Peperangan menuju Pasar Dieng kita akan disuguhkan pemandangan yg membuat mata dan hati jatuh cinta pada pandangan pertama..sekitar 5 menit berjalan dari tenda, kita akan dihadapkan tanjakan cinta, mirip yg ada di Semeru...selanjutnya dari sini kita ambil jalur ke arah kanan lalau sedikit belok ke kiri ke arah atas dan bersiaplah dikejutkan dengan sabana hijau yg luaaaaaaaaaaaas membentang....benar2 menyejukkan mata, dan menyulap siapapun yg melihatnya menjadi terpana dan bilang..”wow”, termasuk saya...#hahaha...
Adem gak tuh ngliatnya...hahaha
Sekitar 15 menit berjalan di sisi kiri jalur akan terlihat genangan air yg biasa disebut Tapak Menjangan, yg apabila sedang musim hujan akan terlihat seperti Ranu Kumbolo versi mini...sekali lagi bilang “wow..subhanallah”...hahaha. Disini saya gak sengaja inframe foto sama tetangga tenda sebelah, yg hasil jepretannya saya sukaaaaa sekali...hahaha...thanks to Mas Fajar..:3...
Asek2 ....reflection in Tapak Menjangan :)





Lanjut lagi mengarungi sabana yg seperti tidak ada habisnya, disini juga rawan pendaki tersesat loh, so keep focus and safety yak....lepas sabana kita akan melalui tanjakan yg kanan kirinya berupa pohon2 bekas kebakaran yg memberikan keunikannya tersendiri..









Hutan2 bekas kebakaran yg mistis tapi eksotis....
lalu sedikit naik, vegetasi didominasi pohon cantigi, menandakan sebentar lagi kita akan sampai di Pasar Dieng, benar saja terhitung sekitar 1 jam berjalan dari pos 5 kita akhirnya sampai di Pasar Dieng yg lumayan dikeramatkan...disini kami sempat menikmati buah cantigi yg berwarna ungu, rasanya mirip jambu sih...sepat2 enak..#hahaha..FYI, daun cantigi muda yg berwarna merah juga dapat digunakan untuk obat sakit perut, rasanya asem2 sepat...:D. Pasar Dieng disini mirip dengan Pasar Bubrah Merapi...jadi emang berupa hamparan batu, bedanya Cuma disini ada pohon cantiginya..tempat ini yg paling sering bikin tersesat karena minimnya plang petunjuk, dan sudut2 yg menurut saya mirip.
Gerbang di Pasar Dieng....wew
Sedikit tips ketika kesini adalah yg pertama temukan dulu plang bertuliskan Pasar Dieng, lalu lanjut ambil ke arah atas sedikit ke kiri, disana kita akan menemukan batu2 bersusun seperti gerbang disertai dengan tangga yg tersusun sangat rapi...sedikit merinding juga sih pas nglewatin ni bangunan di tengah Pasar Dieng, bener2 mirip sama yg diceritain Bapak di basecamp kemarin...langsung lanjut jalan ambil ke arah kiri setelah kita melewati gerbang ini, dan ikuti jalan setapak, dari sini Hargo Dalem sudah nampak dari kejauhan, sementara sisi kiri kita adalah sabana lagi...tak lama, sekitar 15 menit berjalan kita akhirnya sampai di Hargo dalem yg ditandai dengan tangga2 tersusun rapi yg berujung pada sebuah bangunan yg biasa dipakai untuk semedi/bertapa, kebanyakan bagi penganut kejawen...Kita langsung menuju Warung Mbok Yem karena perut sudah berontak dari tadi..#ahahahy..Okay, langsung pesen nutr*sari anget, gorengan 2, nasi pecel cukup bayar 16ribu..#murah meriah mantap...:) hahaha...
Sepiring nasi pecel hangat di ketinggian yg menggigilkan....:D

Oiya, dari hargo dalem menuju warung mbok yem kita cukup ambil arah ke kiri, sementara jika hendak ke rumah botol dari akhir tangga pertama ambil arah ke kanan...Disini kita akan sering bertemu burung jalak lawu yg konon adalah jelmaan dari Sunan Lawu...burung ini kerap membantu pendaki2 loh, seperti menuntun jalan gitu...termasuk kami, setelah bertemu dengan burung ini ketika pulang kami seperti berasa diantar sampai Pasar Dieng..Tapiii, naasnya ketika sampai di daerah Pasar Dieng saat hendak turun kami sempat salah arah...sempat sedikit takut juga sih apalagi waktu itu kabut mulai turun,..mulut ini semakin komat kamit baca do’a....setelah sekitar 2x berputar mencari jalan akhirnya kami menemukan gerbang awal yg disitulah patokannya untuk turun kembali...Alhamdulillah.
Perjalanan turun memang lebih cepat, sekitar pukul 12 kami sudah kembali ke tempat camp...kami langsung bongkar tenda dan packing...packing selesai, saya dan prista mulai memasak mie telor, karena perut masih sedikit kenyang sama nasi pecel mbok yem tadi...Well, masakan matang, serbuuu...hahaha...belum 5 menit selesai makan, hujan turun tiba2, sempat bikin galau buat turun..hahaha...untungnya hujannya cuma numpang lewat, kami semua memutuskan pakai jas hujan biar gak ribet kalo hujan turun tiba2 lagi...
Sekitar pukul 14.30 WIB kami beranjak meninggalkan Bulak Peperangan, benar saja, baru 7 menit berjalan hujan mengguyur dengan derasnya..mau gak mau tetep kudu jalan,..yaaah, perjalanan pas hujan kaya’ gini emang serba salah..hahaha...mau berhenti dingin rawan hypo, jadi kudu tetep jalan...kami hanya berhenti di tiap posnya...dan hanya minum 1x dari atas sampai basecamp...#woow...Dalam hati sepanjang perjalanan saya terus berharap “jangan sampai melewati pos 2 waktu magrib..sereem euy”...

Hujan tidak kunjung reda, dari pos 5 sampai 3 tidak ada masalah, dari pos 3 ke pos 2 yg notabene berupa hutan lebat cukup membuat kami ragu karena tidakmkunjung sampai, ditambah kabut yg menemani perjalanan membuat saya berpikir yg tidak2...Mungkin karena efek lelah juga, di sebuah persimpangan si prista mengambil jalur ke arah kiri padahal dibawahnya sudah dipasang palang pohon2 yg berarti tidak boleh dilalui...”Jalurnya sini dek”, tegur saya sambil menunjuk ke sisi kanan karena saya melihat ada tali rafia terpasang di pohon di sebelah kanan..”Loh, itu dibawah keliatan mbak posnya”, jawabnya...padahal saya tidak melihat ada bangunan apapun ditempat yg ia tunjuk..#merinding lagi dah jadinya...”lewat sini aja yg udah pasti benernya, takutnya sebelah situ curam”, begitu jawab saya sekenanya...dan mencoba kembali tenang...#haha...akhirnya perjalanan dilanjutkan sesuai jalur yg saya tunjuk...sekarang ganti saya dan mas ucil yg melihat pos 2 dari kejauhan yg ketika semakin dekat ternyata hanya kabut..disitu ssya berharap menemukan plang/sampah plastik pendaki, setidaknya dapat meyakinkan saya bahwa jalur yg kami lewati kali ini benar... Saya terus melirik jam tangan, suasana sepi hanya hujan dan kabut yg terus menemani langkah kami, Alhamdulillah jam 16.30 kami tiba di pos 2 yg sebenarnya, kami tidak berhenti kali ini dan terus melanjutkan perjalanan..Hawa di pos ini memang sangat jauh berbeda, selalu membuat bulu roma brdiri tanpa sebab yg pasti...

Dari pos 2 k pos 1 kami berpikir akan tiba lebih cepat karena saat naik kami hanya butuh waktu 30 menit, tapi ternyata tidak pemirsa,,,malah 1 jam berjalan kami baru sampai di pos 1, yaah..mungkin efek hujan yg membuat jalur semakin licin...Tak sekali dua kali kami semua terpeleset yg mampu memecah sunyi dengan tawa..#hahaha...bahkan membuat kami prosotan seperti anak kecil...:3.
Finally, sekitar pukul 18.10 WIB kami tiba kembali di basecamp...tenggorokan kering, tangan lecet, kaki seperti pinguin...yaaa kurang lebih seperti itu kondisi kami kala itu, tapi dibalik itu semua pendakian kali ini menyimpan sejuta cerita istimewa buat saya pada khususnya...#hahaha..

Dulu saya sering bingung ketika orang lain bertanya pada saya, “Gunung apa yg paling indah dan kamu suka? “....Dan disini saya seperti mendapatkan jawabannya, “Wukir Mahendra” ...Saya bersyukur tinggal di kakinya, merasakan dingin hawanya, menyesap setiap sudut indahnya...Terimakasih Tuhan,...

Sampai jumpa Lawu, dengan segala mistis dan manismu.....kan kupastikan aku kembali memelukmu dengan sejuta rindu dan cintaku... :* 
Love youuuuu Lawu....:*

Jumat, 01 Januari 2016

Puncak Terakhir Pendakian 7 puncak tertinggi Jawa Tengah - Sindoro

Well, menurutku tak ada kata terlambat untuk bercerita..
Sekedar berbagi rasa, merangkai kata-kata..
Saat ini, aku mulai mematri pada diriku sendiri bahwa setiap perjalananku harus aku tuliskan, tak peduli ada yang membaca ataupun tidak...
Ya, aku hanya ingin memahat tiap inchi apa yang aku rasa dalam tulisan...#hahaha sok puitis

Kamis,24 Desember 2015
Peralatan tempur alias carier sudah terpacking rapi di pojok kamar kostan. Terbangun pukul 04.28 dengan semangat, karena hari ini aku akan memulai perjalanan menuju Wonosobo, tepatnya Gunung Sindoro. Gunung yang sudah lama sekali aku ingin kunjungi karena gunung ini merupakan target terakhirku untuk pendakian 7 puncak tertinggi Jawa Tengah. Yap, memang sejak bermain-main di dunia pendakian aku memasang target untuk bisa berdiri di 7 puncak tertinggi. Tujuh puncak tertinggi Jawa Barat sudah tercapai tahun 2014 kemarin, Alhamdulillah. InsyaAllah jika Tuhan mengijinkan target untuk tahun 2016 adalah 7 puncak tertinggi Jawa Timur...Aamiin...(dukung dan do’akan saya yaaaa...^^) Bagi yang tertarik meu menemani atau mungkin mensponsori saya juga gak nolak kok...hahahaha.
Okay back to the story, sebelumnya aku udah janjian sama temanku buat meet up di Jakarta, mereka 5 orang tapi hanya 1 yang udah aku kenal, sebut aja Begenk. Sekitar jam 9 aku mulai berangkat dari kostan menuju stasiun Bogor, katanya sih temennya Begenk, si Rizky mau ngejemput di stasiun Rajawali. Setelah semuanya berkumpul di rumah Begenk buat packing ulang, kita meluncur menuju pool Damri di Kemayoran buat beli tiket bis. Dipilih bis karena tiket kereta udah habis dari jauh2 hari, selain itu for your information nih, tiket bis ke wonosobo/purwokerto gak bisa dipesen dari jauh2 hari.
Jadi, sekitar jam 2 siang kita nyampe sana, tapiiii ternyata antriannya udah banyak banget padahal loketnya belum dibuka...whaaat??? -_- . So,ngegembelah kita disitu sampai jam setengah 7 baru dapet tu tiket...Alhamdulillah dah walaupun harus nunggu lama, ini juga berkat si Rina yang berhasil ngelobi petugas tiketnya...#jempol dah buat doi. Disini Rina bawa 2 adeknya, bukan adek kandung sih..namanya Intan sama Iman, mereka baru pertama kali mau naik gunung gitu ceritanya..Oiya di pool kita juga ditemenin abangnya si Begenk, Bang Nyempil. Sempet ketawa2 tapi jujur aku sempet ngerasa bersalah gitu sih ceritanya, maksud aku bercanda tapi ternyata menyinggung perasaannya gitu....#eaaa...berarti hari ini aku dapet pelajaran tentang “bersosialisasi”...setiap orang punya karakternya masing2,jadi perlu hati2 kalo mau berbicara ataupun bercanda yaa...perlu belajar lagi nih!

Jum’at,25 Desember 2015
Akhirnya sekitar jam setengah 8 malam, bis kita berangkat...Bismillah, berharap gak macet, tapi gak mungkin...#hahaha..buktinya kita di bis selama 20 jam...-__- kebayang kan gimana rasanya itu badan? Hahaha...Yosh, pukul 16.30 kita nyampe juga di terminal Mendolo, Wonosobo. Istirahat bentar trus langsung lanjut naik mobil bak bareng pendaki lain dengan tarif Rp.10.000/orang menuju basecamp Kledung. Sebelumnya udah 2x lewat sini (pas mau ke Sumbing sama Prau) akhirnya mampir juga...^^. Perjalanan dari terminal ke basecamp sekitar 30 menit dengan lintasan yang indah kaya di daerah puncak Bogor,,ijoooo bro...
Sampai di basecamp kita langsung packing ulang+bayar registrasi Rp.10.000/orang. Barang2 yg gak dibawa naik kita titipin ke mas2 basecamp, insyaAllah aman dan free alias gratis...sebelum mendaki kita ngisi perut dulu biar ada tenaga gitu, dan khusus buat aku, aku minum setengah tablet Ant*ngin biar gak masuk angin...#hahaha..karena 2 pendakian kemarin aku masuk angin terus selama di pendakian, makanya kali ini aku minum tuh obat buat mencegah, dan alhamdulillah ampuh...buat kalian yg suka masuk angin selama di pendakian mungkin cara ini bisa diikutin, cukup setengah tablet aja kok...hohoho
Selepas isya dan beres2, jam di tangan menunjukkan pukul 20.20 WIB dan kita mulai ngojek...Ngojek???? hahaha...iya, kalian gak salah baca kok. FYI disini ada bapak2 ojek yang siap mengantarkan kita sampai pos 1. Perjalanan yg jika ditempuh dengan jalan kaki sekitar 45 menit bisa ditempuh dalam waktu 10 menit. Yaaa lumayanlah buat ngehemat waktu dan tenaga karena kita ngejar hari sabtu sore kudu udah pada dibawah buat otw balik ke jakarta. Buat kalian yg berencana mendaki gunung ini ada baiknya mencoba nih ojek dan rasakan sensasinya..seruuuu walaupun deg2.an...#hahaha..itung2 berbagi rejeki sama masyarakat disini, ongkosnya Rp.10.000/orang setelah tawar-menwar tentunya.
Sampai di pos 1 kita berdo’a dan mulai menapakkan langkah menyusuri jalur yang berupa tanah berbatu. Malam itu benar2 indah, langit cerah-bulan purnama-taburan bintang, MasyaAllah kereeeen pokoknya mah....sayang, kamera hp ini gak bisa mengabadikan lukisan-Nya kala itu. Enaknya perjalanan malam adalah gak terlalu kelihatan medannya, jadi gak terlalu berasa capek dan haus. Tapi, kalau melakukan pendakian di gunung yg belum pernah didaki dan rekan pendakian belum ada yg tau medannya, mending jangan mendaki di malam hari,,,bisa2 nyasar kaya’ aku pas di Ungaran.
Jalan –istirahat- jalan....akhirnya sekitar pukul 23.50 kita sampai di pos 3 yang sudah dipenuhi tenda...nyari celah diantara tenda yg sudah berdiri-bikin tenda-flysheet, dan masak yg anget2. Sebenernya, mata ini udah pengen tidur tapi kondisi yg tidak memungkinkan akhirnya nunggu masakannya mateng. Kaya’nya emang aku gak terlalu minat kalo masak di gunung, Rina sama Begenk yg goreng nugget, sama ngrebus air buat bikin bubur. Aku? Aku ngelompokkin logistik di tenda, packing buat summit sama nyiapin lapak buat tidur. Mungkin gara2 udah pada capek kali ya, makannya pada dikit2...mencak2 dah tuh si Mpok (Rina) gara2 masakannya gak dimakan..hehehe..maapkeun.

Jum’at, 26 Desember 2015
          Jam 02.00 aku baru bisa benar2 tidur, dan jam 03.30 alarm berbunyi. Sesuai kesepakatan awal kita akan berangkat jam 04.00, dan Rina tidak ikut summit buat jaga tenda karena doi dulu udah pernah summit, sementara si begenk yg punya janji ke aku juga gak mau summit. Jam 03.40 aku lihat Intan masih tertidur pulas, aku tega2in buat bangun dan nyuruh dia buat makan biskuit sama minum teh anget. Tenda para cowok aku gedor2 gak nyahut, akhirnya aku paksa buka tu tenda, gak peduli waktu itu angin lagi kenceng2nya, bahkan aku sampai marah2 gak bisa ngontrol emosi karena pada males bangun. Bener2 kesel waktu itu, sempet berpikir mau jalan sendiri sama Intan tapi aku pikir2 lagi, pendaki lain udah pada muncak dari jam 3, gak ada barengan, dan aku belum tau medan, aku gak mau ambil resiko akhirnya tetep ngambek nunggu dari para cowok buat bangun. Akhirnya jam 04.30 si Rizky mau nemenin buat summit, dua cowok yg lain molor. Kita mulai summit, jalur masih berupa tanah dengan sudut sekitar 60o. Jam setengah 6 fajar mulai merekah, kami bertiga berhenti sejenak menikmati maha karya-Nya sembari istirahat dan foto2 tentunya...hahaha
Saya dan Intan ^^
Si Rizky nampang

          Perjalanan masih jauh, gunung ini mungkin bisa disebut php juga sih, seperti gunung2 di jawa tengah pada umumnya...Tidak sedikit pendaki yg gagal muncak dan turun lagi ke pos 3. Sebenarnya aku juga takut jika waktu itu Intan menyerah dan memilih untuk turun, tapi niatnya benar2 bulat. Walau perlahan dan banyak istirahat sampai kadang aku terlalu jauh di depan karena nyari tempat teduh..#gak tahan panas...dia punya tekad baja, keren juga ni anak batinku,...hahaha..
Puncak Sindoro...3153 mdpl...:D
Akhirnya jam 9an kami bertiga berhasil manapakkan kaki ini di zpuncak Sindoro, 3153 mdpl.,,Alhamdulillah...^^ bahagia banget, cuaca yg cerah, lautan awan, gunung Sumbing yg berdiri gagah didepan sana, ataupun Merbabu-Merapi yg mengintip dari kejauhan...tapi, karena asap belerang dari kawah Sindoro ini kita tidak boleh berlama-lama ditakutkan terpapar...aku saya yg belum sampai 10 menit disitu mulai merasakan tenggorokan gak beres padahal udah pakai masker....yaaa, setelah puas mengabadikan momen, kami langsung turun kembali menuju pos 3.
          Ditengah jalan menuju pos 3, kami bertemu Begenk dengan Iman mereka otw puncak, disitu aku sempat menahan emosi, tapi yasudahlah....sedih kalo diceritain mah...haha...setelah 1 jam berjalan, tiba2 kaki Intan cidera...terkilir dan kram..akhirnya digendong sama Begenk, bergantian dengan 2 pendaki lokal yg kami temui, sempat jatuh, lalu berjalan menggunakan trackpole sambil dibopong...huuum... ini bisa aja terjadi sama semua orang lho, gak cuma yg baru pertama naik, kuncinya buat mencegah bisa dengan olahraga dari jauh2 hari sebelum naik gunung...dan bagi beban secara merata pda kedua kaki, jangan bertumpu hanya pada 1 kaki....Karenaaa, kram itu gak enaaak..bahkan saya sempat meneteskan airmata saking sakitnya...#putus pacar aja gak sesakit kram....hahaha.
Lengkap 1 team! Siap turun kapten.....


          Sekitar jam 1 kami berenam siap2 turun, dan akhirnya sampai basecamp jam setengah 5. Langsung otw terminal Wonosobo, dapet tiket ke Jakarta jam 19.30. Welcome back to Jakartaa.... Thank You God, I love You Sindoro....:D
Berdiri bersama diatas lautan awan...hahaha

Sejenak menyatu dengan Kawah aktif Sindoro...Subhanallah

Rabu, 09 Desember 2015

Pendakian Puasa, bukan Puasa Pendakian ^^

Apa pendapat kamu mendengar kalimat “Pendakian Puasa” ?
Yup, itulah ide gila yang terlintas di pikiranku kala itu, bulan Ramadhan 2013 lalu…
Tahun 2013 adalah tahun dimana jiwa mendakiku begitu kuat…#ciaah , berbekal rasa kangen, penasaran, ditambah ide konyol jadilah pendakian “istimewa” ini terlaksana. Target pendakian kali ini adalah tetap berpuasa sembari mendaki.
 Usut punya usut sekitar 2 minggu sebelum pendakian ini, aku mulai jadi “kompor” buat ngajak temen2ku dalam rangka merealisasikan ide gilaku ini….Daaan, fortunately ada sahabat2 “gila” ku yang mau menemaniku menggila buat pendakian ini….ahahaha…love you guys!

Gunung yang akan kami sapa dalam misi ini adalah Gunung Pangrango dengan ketinggian 3019 mdpl. For your information, di gunung inilah Soe Hok Gie membuat puisi istimewa berjudul “Mandalawangi-Pangrango” yang menunjukkan betapa cintanya beliau pada gunung ini.

“aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta”

Paling suka baper kalo dengerin lagu Cahaya Bulan by Eros yang ada puisi Gie judulnya Sebuah Tanya… menyentuuuuuh banget dah pokoknya, recommended !!!

27 Juli 2013
Dari sekian banyak temen2 naik gunung, akhirnya Cuma 4 orang yang bersedia menemaniku melakukan misi istimewa di bulan ramadhan ini. Mereka adalah saudaraku di MAKAPALA, organisasi pecinta alam di kampusku. Tersangkanya adalah Tias, Aplik, Bang Iqbal, dan Bang Maman. Sebelum berangkat, aku sendiri dalam hati ragu sih…”bisa gak ya nyampe puncak puasa-puasa gini?kuat gak ya?” dan banyak pikiran negative lain…Tapi, yang namanya udah kangen plus rasa penasaran yang begitu besar bisa ngalahin pikiran2 nething tadi…#hohoho

Akhirnya berangkatlah kami berlima dengan menggunakan elf putih jurusan Sukabumi dengan ongkos waktu itu Rp.30.000 sekitar pukul 07.00 dari Bogor. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam sampailah kami di TNGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Untuk naik gunung ini kita harus memiliki SIMAKSI (Surat Izin masuk Kawasan Konservasi) dan tiket yang awalnya sudah dibooking jauh2 hari lewat website www.gedepangrango.org .


Kedua gunung ini memang menjadi favorit para pendaki, khususnya yang berdomisili daerah Jabodetabek karena letaknya yang tidak terlalu jauh dan panoramanya yang memang mempesona, terlebih padang edelweisnya yang bakal membuat kita betah berlama-lama disana…#i promise… :D. Sengaja kita memilih Pangrango selain karena alasan diatas adalah karena gunung ini memiliki hutan tropis yang lebat, sehingga dapat mengurangi dehidrasi ketika naik gunung sambil puasa…#gak kebayang kan kalo puasa2 naik gunungnya Gunung Guntur? Baru sejam jalan pasti udah batal gegara panaaaaas….hahaha.

Narsis duluuu sebelum nanjak….:D
Dari kiri ke kanan : Bang Iqbal, Tias, Susan, Aplik, Bang Maman

Untuk pos-pos pendakian ini sama dengan ceritaku sebelumnya yang berjudul “Secarik surat dari 2958”, karena memang kedua gunung ini tak terpisahkan…#eaaa…jadi emang kalo naik lewat jalur Cibodas, setelah pos kandang batu akan ada persimpangan. Jika kalian mau ke Gunung Gede maka ambil jalur ke kiri, sementara jika hendak ke Pangrango ambil jalur kanan…gampang kan? Karena 1 jalur inilah tidak sedikit pendaki yang datang dari jauh langsung menargetkan mendaki kedua gunung ini sekaligus…tapi kalo buat aku mah, makasih…Sayang naik gunung kalo cepet2.an tanpa menikmati…hahaha

Memang banyak banget spot menarik bin keren dari jalur pendakian Cibodas ini yang bikin kita2 gak berhenti buat foto ^^, diantaranya :
Jernihnya danau di pos telaga biru bakal bikin kita lupa kalo lagi naik gunung….
Berpose di jalur yang berupa kayu kaya’ begini juga gak kalah keren kok…
Nah, sumber air panas gak Cuma ada di Gunung Rinjani guys, jalur Ge-Pang via Cibodas ini juga punya…dan asiknya tempat ini berada di pinggir jalur pendakian sehingga kita bisa beristirahat sambil merendam kaki yang lumayan lelah setelah diajak berjalan… rileeeeeks ^^

Tidur dulu setelah shalat dzuhur di pos Air Panas…..tepaaaaaar, tapi Alhamdulillah puasanya belum batal….:D hahaha

Setelah beristirahat sekitar 1 jam, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos Kandang Badak, tempat yang kita rencanakan buat berbuka puasa nanti…
Akhirnya, sekitar pukul 16.00 kami tiba di pos Kandang Badak, awan mulai mendung, pertenda sepertinya kan turun hujan…Kamipun memasang flysheet dan menggelar matras untuk sholat. Selama di gunung, jangan lupa sholat yak, khususnya bagi umat beragama Islam, karena sholat kan tiang agama. Betul apa betul? Hehehe…

Selepas sholat ashar, kami tiduran, meluruskan punggung, dan memejamkan mata sekedar melepas lelah yang ada, serta melupakan rasa haus dan lapar yang melanda…#hahaha
Baru setengah jam terpejam, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, untung kami sudah memasang flysheet, tapi sayangnya medan yang kami tiduri sedikit miring dan parahnya kami tidak membuat jalur air. Sehingga saat itu juga dengan sigap para lelaki membuat jalur air dengan pisau. Berharap air tidak melewati tempat istirahat kami terlalu banyak. Sementara, para wanita yaitu aku dan Tias memasak untuk menu berbuka puasa. Sebisa mungkin diantara kami tidak ada yang diam untuk mencegah hypothermia. Alhamdulillah, magrib tiba – hujan mulai reda – buka puasa kala itu berasaaaaa banget nikmatnya, membuat kami tak henti2nya bersyukur ;’) . . .

Kami juga membuat teh manis panas untuk disimpan di termos bekal perjalanan menuju puncak dan Mandalawangi tentunya… perjalanan menuju titik camp tidak cukup mudah karena tanah basah akibat hujan, dan medan yang berupa  akar2 pohon. Akhirnya sekitar pukul 22.30 kami tiba di puncak Pangrango dan langsung turun menuju lembah kasih, Mandalawangi. Jengjeeeeng ternyata tak ada satupun pendaki disana,  tak menunggu lama karena hawa yang menusuk tulang, kami langsung membangun tenda, pakai jaket,dan bersiap untuk sholat. Sholat apa? Sholat isya, tarawih 8 rakaat, dan witir 3 rakaat.  Kami sholat didekat tenda, ditengah dinginnya Mandalawangi, dibawah taburan bintang-bintang dan bulan… Syahduuuuuuu…. Berasa pengen nangis terharu kalo inget itu..#hahaha…walaupun terkadang ditengah sholat badan ini bergidik karena dingin, atau mulut yang sedikit membeku mengucap kata “Aamiin”… But, I miss it so much..
Setelah sholat dan sedikit berfoto, kami memasak sedikit untuk sahur dan dilanjutkan tiduuur. Sekitar pukul 03.00 tanggal 28 Juli 2013 kami bangun untuk makan sahur, mengisi tenaga untuk turun gunung… yaaa, sahur on the mount gitu ceritanya…#hahahaha 
Sahur on the mountain..^^
ah...pendakian yang selalu mengukir rindu...:')
Sungguh, Mandalawangi kala itu seperti kepingan surga milik pribadi. Bagaimana tidak, di padang edelweiss seluas itu hanya ada 1 tenda kami berdiri, dan hanya ada 5 orang manusia disini…..Subhanallah, sungguh nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?
Edelweiss yang sedang mekar, sungai jernih yang begitu segar…^^

Terima kasih Tuhan,
Sampai jumpa Mandalawangi, mungkin cinta Gie kala itu padamu seperti apa yang kami rasakan kali ini…. Love Youuuu <3