Senin, 26 September 2016

Menyelamatkan Hati di Gunung Slamet

Menyelamatkan Hati di Gunung Slamet
“Sudah saatnya aku kembali ke pelukan dingin
Biar ia membekukannya
Biar Slamet menyelamatkannya”

Yaaa, kira-kira itulah curahan hati saya di facebook 4 Mei 2016...galau melanda guys...#hahaha
Beruntung saat galau teman saya, si Bekti ngajakin ke Slamet...pas banget dah..
Emang, buat saya obat galau paling ampuh tuh ya Naik Gunung, ya gak para pendaki??...:D
Yosh, tiket ke Stasiun Pemalang sudah di tangan,..Kenapa kita beli tiket tujuan Pemalang padahal mau naiknya Gunung Slamet? Karena kita berencana mau mampir di rumah Bekti..lumayanlah, numpang makan dan nginep gratis...hahaha
Oiya, tim kita kali ini terdiri dari 7 orang dengan 3 lokasi dan transportasi berbeda...Saya,Bekti, dan Uha berangkat dari Bogor naik kereta ; Karyo dan Mas Heri dari Cirebon bawa mobil, sementara Mas Andre dan Mas Surya motoran karena lokasinya sama2 di Pemalang...Meeting pointnya ya pastinya di rumah Bekti..
Kamis, 4 Mei 2016
Saya, Bekti, dan Uha janjian untuk bertemu di Stasiun Pasar Senen..kereta kami dijadwalkan berangkat pukul 23.00 WIB. Malam itu stasiun penuh sesak, banyak ibu2 dan keluarganya yang sepertinya akan pulang kampung (tgl 5,6,7 tanggal merah), dan tentunya para pendaki dengan tas setinggi kepala alias carrier seperti yang kami pakai saat itu... Perasaan saya begitu bersemangat, maklum sudah 3 bulan gak ngegendong tas berat ataupun nyium hawa gunung...#hahaha...Well, keretapun berjalan perlahan dan tak berapa lama kian melaju kencang... Mata masih sepet banget rasanya, saya melirik ke bangku sebelah dan ternyata si Uha juga tidur lelap, sayapun memutuskan untuk tidur lagi...baru setengah perjalanan, di jadwal kami akan tiba pukul 04.00, tapi ternyata kereta terlambat...kami sampai di Stasiun Pemalang sekitar pukul 04.30 dan untungnya si karyo dan Mas Heri udah nunggu disana dari 1 jam lalu...hahaha..
Jum’at, 5 Mei 2016
Sholat subuh, packing barang di mobil, ngobrol2 sambil menyusuri kota Pemalang yang masih gelap dan sepi..sayup2 dari jauh terlihat gunung Slamet dari kejauhan...makin semangat rasanaya..yah, walaupun kita masih galau mau naik lewat jalur Jurangmangu atau Guci atau malah banting setir ke Bukit Samoan...#galauan rek.. Kami sampai di rumah Bekti sekitar pukul 05.30, hawa disini seger beda banget dah pokknya mah sama di kota...#yaiyalah..adek2 bekti masih pada tidur, dan karena kedatangan kami di pagi itu mereka jadi terbangun dari mimpi indahnya...#maap ya Debi,Elsi,Dika...:3. Disambut dengan ramah dan penuh makanan yang disajikan oleh Ibu dan Bapak Bekti membuat kami berasa di rumah sendiri...:). Sekarang tinggal nunggu 2 personil lagi, Mas Andre dan Mas Surya..tapi kabar buruknya mereka bisanya sampai disini sebahis Jum’atan...-__- habis Jum’atan mereka berdua tak kunjung datang, saya merasa bosan dan memutuskan untuk tidur saja, termasuk Uha,dkk...Jam 3 sore terbangun gara2 suara ribut, ternyata Mas Andre dan Mas Surya baru dateng..heuuu..re-packing, sholat ashar, masukin carier ke mobil, dan kamipun bersiap untuk berangkat..Diputuskan untuk naik via jalur Guci setelah lama bergalau ria, dengan pertimbangan : mau ngrasain naik Slamet via jalur lain selain Bambangan, dan pengen main ke pemandian air panas Guci, kan enak tuh turun gunung badan pegel2 berendam di air panas yang alami,rasa capek pasti berkurang :)
Mobil melaju kencang menuju Kabupaten Tegal, karena jalur Guci ini sudah masuk wilayah Tegal, bukan Pemalang...di tengah perjalanan hujan sempat mengguyur dan sedikit membuat kami berkecil hati,..berharap ketika kami tiba disana hujan berhenti. Dan alhamdulillah, sekitar pukul 17.30 kami tiba di basecamp GUPALA setelah sebelumnya membayar retribusi di gerbang masuk wisata Guci sebesar 85K. Di basecamp, kami istirahat sembari menunggu adzan magrib. Hawa disini menggoda untuk tidak naik, enaknya buat ngecamp...hahaha.. Selepas sholat magrib, kami registrasi untuk mendaki dan membayar 105K untuk 7 orang. Cukup mahal kalo kata saya mah, tapi ya mau gimana lagi begitu ketentuannya...-_-
FULL TEAM !
Dari ki-ka : Surya,Andre,Uha,Susan,Bekti,Heri,Karyo
Yosh, akhirnya jam di tangan menunjukkan pukul 19.30 WIB dan kamipun dengan segenap jiwa dan raga #ceileh ...mulai melangkah perlahan menyusuri jalan sesuai peta yang diberikan oleh pihak basecamp..
Peta Jalur Pendakian Slamet via GUCI

Setelah kurang lebih 15 menit , kami tiba di pintu hutan dan mengikuti jalur berbatu. Perjalanan malam membuat tanjakan tidak terlalu berasa, hanya saja tidak ada pemandangan yang bisa dinikmati selain mendongak ke atas dan melihat taburan bintang dan cantiknya bulan menghiasi gelapnya langit kala itu.. nafas mulai menderu, suara yang tadinya ramai kian sunyi karena menghemat tenaga ceritanya...Lagi-lagi saya yang berjalan paling depan, diikuti Bekti, Uha, Mas Heri, Mas Karyo, Mas Andre dan Mas Surya...Jalan masih trek berbatu,lumayan banyak percabangan jadi kudu ekstra fokus...
Daaan jeng-jeng,kejadian seperti Lawu via cetho kemarin terulang lagi..-__- Di percabangan Kali Asat ketika saya menoleh ke kanan saya bertemu “mbak2” itu lagi..Memang dalam tim ini ada yang lagi “dapet”, tapi kok ya saya yg harus ngeliat...-_- . karena kaget, saya minta buat ganti cowok yg paling depan, tapi gak ada yg peka...ujung2nya malah Bekti yg ganti depan...yaaa mau gimana lagi, yg penting bukan saya dah yg paling depan lagi..#hahaha...Belum lama berjalan, kami mulai terpecah menjadi 2 tim..Bekti,saya,uha,dan mas heri ada di depan...sementara 3 lainnya di belakang.

Setelah 90 menit berjalan, pukul 21.00 kami tiba di pos 1 (Pinus-1500 mdpl)...Alhamdulillah, vegetasi disini berupa pinus2 tinggi yg menurut saya jika siang pasti indah, sayangnya malem yg ada malah serem..#haha...Istirahat sejenak meluruskan kaki, melepas beban di punggung, menikmati semilir angin bersama buah jeruk...ah, segernya..:). Hampir 20 menit kami beristirahat disini, tiba2 Karyo berkata dia mau turun alias tidak melanjutkan pendakian..kami semua kaget, dan membujuk buat tidak turun..Tapi, keputusan Karyo sepertinya sudah bulat,”Bukan masalah positif thinking, bukan masalah capek, tapi saya merasa dada saya sesak dan panas,tidak seperti biasanya walaupun sudah beristirahat, kalo kondisinya kaya’ gini pilihannya cuma 2,,saya tidur disini sampai pagi atau saya turun, yg jelas saya tidak naik. Maaf teman2, saya yg paling tahu tubuh saya sendiri”, begitu kira2 kalimatnya saat itu. Sempat tersentak sih...semua terdiam...kecewa? mungkin iya, tapi kalau dipikir secara mendalam memang seperti itulah keadaanya, tak bisa dipaksakan. Untuk turun semua tentu juga tidak mungkin, kasihan Uha yang belum pernah naik Slamet. Akhirnya diputuskan, Mas Heri akan menemani Karyo turun, terlalu berbahaya untuk turun sendiri dengan kondisi Karyo seperti itu. Re-packing, dan tepat pukul 21.30 kami dengan berat hati merelakan Karyo dan Mas Heri untuk kembali turun. Sesak juga sih sebenarnya, secara kita berangkat bareng, baiknya juga pulang bareng, tapi apa daya. 
Perjalanan dilanjutkan, kami memasuki hutan dengan semak belukar yang cukup tinggi, hujan tadi sore membuat daun2 basah dan membuat celana kami ikut basah...asal gak ada lintah aja buat aku mah..sempat dengar kalo via Jurangmangu banyak lintah alias pacet, untuung aja gak lewat sana, batin saya...#hahaha
Saya merasa jenuh dengan jalur yg kaya’ begini, benar2 dah baru kali ini saya merasa bosan dalam pendakian..jalur tanah sempit, disamping kiri kanan semak belukar tinggi yg juga turut menutupi jalan setapak, membuat kaki berat untuk melangkah, belum lagi tetesan sisa hujan yg berhasil membuat celana basah...-_-. Setelah berjalan selama 1 jam, akhirnya kami tiba di pos 2 (Cemara-1850 mdpl)yaitu sekitar pukul 22.30. Istirahat sejenak, mata saya mulai mengantuk, saya kira kami akan membangun tenda disini. Ternyata, mereka sengaja pura2 tidak melihat saya mengantuk, membujuk untuk tetap berjalan sampai Pos 3...hwaaaa...rasanya pengen saya teriak, tapi kalau dilihat dari peta memang perjalanan masih sangat jauh untuk sampai puncak, setidaknya malam ini kami harus sudah sampai tiba di ketinggian 2000an. Akhirnya kaki saya paksa untuk jalan, sambil dalam hati berteriak,”pengen tiduuur” hahaha...tapi gak ada yg denger..#yaiyalah..
Akhirnya setelah 90 menit berjalan, terlihat cahaya dari kejauhan, Pos 3 (Pasang-2129 mdpl)..Alhamdulillah,,,Tempat ini lumayan lapang, bisa untuk mendirikan 6-7 tenda. Tiba-bongkar carrier-ada yg masak,ada yg bikin tenda. Tenda jadi, masakan matang. Well, it’s dinner time...menu makan malam kali ini scalop,bakso goreng,sop, dan sambal spesial bikinan ibu bekti..yummiii..kelar makan, bersiap untuk tidur sekitar jam 01.00. Sementara, saya baru bisa terlelap jam 01.30 ketika semua sudah tidur..baru setengah jam tidur, saya terbangun gara2 Mas Andre dan Mas Surya “ketindihan”..-__-, tapi saya malas untuk bangun, mata merem lagi, bangun gara2 alarm jam 5...masih sepet, merem lagi, bangun2 jam setengah 6...buru2 bangunin Uha buat sholat subuh di luar..>_<. Beres2 SB, ambil pisau, nyalakan kompor..mari masaaak! Masakan matang, sarapan, packing barang buat summit dan melangkah lagi sekitar pukul 09.30.
It's breakfast time :D
@terowongan celeng
 Perjalanan dari pos 3 ke pos 4 lumayan panjang, pemandangan di kanan-kiri masih sama seperti kemarin. Hanya terlihat tanaman perdu dan pohon. Ah, kenapa saya merasa begitu bosan dengan jalur ini. Beberapa menit sebelum pos 4 kami meleawati jaur yang unik, namanya “terowongan celeng (babi)”, sedikit mengingatkan saya pada jalur Kerinci, dimanan untuk melewati terowongan ini kita harus menunduk bahkan merayap kalo bawa carrier..seruu. 

Akhirnya sekitar pukul 11 kami sampai di pos 4 (Kematus) dan bertemu dengan rombongan keluarga pendaki yang terdiri dari Ayah,Ibu, dan 2 orang anak..Ah, bikin mupeng deh..Berharap suatu hari nanti bisa bikin keluarga seperti mereka. Aamiin. Setelah setengah jam istirahat, kami melanjutkan perjalanan meenuju pos 5. Dua jam perjalanan, sampailah kami di pos 5 (Cantigi). Dari sini jika kita memandang ke atas 45 derajat kita sudah bisa melihat trek meuju puncak berupa batu2 merah khas Gunung Slamet. Puncak yang dicapai langung dari jalur ini bukanlah puncak slamet sebenarnya, tapi puncak kawah. Dimana jika kita ingin mencapai puncak Slamet, dari puncak kawah kita masih harus berjalan menyusuri kawah dan perlu ekstra hati-hati. 

Di pos 5 kami istirahat makan siang dan sholat dzuhur. Cuaca sepertinya tidak mendukung, langit mulai kelabu, jam menunjukkan pukul 14.15. Hati saya resah, galu gitu ceritanya teh..tiba2 terbersit, sepertinya kali ini gagal muncak. Tapi waktu itu kami mencoba untuk tetap mendaki.
Btu-batu merah khas Gunung Slamet
 Menapaki batu2 merah yang kadang rapuh, berpegangan kuat pada batu besar ala2 climbing gitu.. seneng sih sebenernya, tapi... Tiba2 kabut mulai turun, saya mulai galau lagi. Berkali-kali saya melihat jam di tangan. Waktu sudah terlalu sore, kabut turun, dan gerimis mulai ikut beradu dengan angin. Hujan mulai deras, kami segera memakai raincoat masing2. Suara halilintar memecah sunyinya jalur itu, karena hanya rombongan kami yang naik. Asli galau banget, saya berhenti sendiri dan terpaku di balik bongkahan batu besar sambil menatap ke bawah. Bekti,dan Uha berhenti diatas saya. Sementara Mas Andre dan Mas Surya adi di bawah saya. Jarak saya dengan mereka cukup jauh,saya berada ditengah, hujan semakin deras, tiba2 seperti ada yang memegang bahu saya. Entah halusinasi saya saja atau apa saya tidak tahu, yang jelas ketika saya menoleh karena “sentuhan” itu tidak ada seorangpun. Daaaan, tiba2 saja saya berurai air mata tanpa alasan yang saya sendiri tidak tahu kenapa. Saya mencoba berhenti menangis, tapi tidak bisa. Melihat itu teman2 serombongan mulaikhawatir dan menghampiri saya. Mereka terus bertanya “kenapa?”, dan saya tidak tahu jawabannya. Melihat kondisi itu, saya memutuskan untuk turun sendiri alias gak muncak. Banyak yg meyakinkan saya sih buat terus naik “Sayang loh, tinggal setengah jam lagi puncak”. Tapi entahlah, saya kala itu bener2 gak mood buat muncak, gak tau kenapa. Baru saat itu saya mengalami hal seperti ini. Akhirnya Mas Andre memutuskan untuk turun kebawah nemenin saya, awalnya saya ngotot mau turun sendiri tapi gak dibolehin, safety first guys, Jangan pernah meninggalkan rekanmu sendirian di gunung. Sementara Bekti dan Mas Surya memutuskan untuk nemenin Uha ke puncak karena belum pernah.  Sekitar 15 menit berjalan turun, ternyata gak semudah waktu naik, dan rawan banget kesasar. Kalo saya turun sendiri dalam kondisi cuaca seperti itu yaa wassalam mungkin. Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas. Ternyata mereka bertiga tidak jadi muncak juga. Emang sih, dalam kondisi dan cuaca kaya gitu sepertinya gak memungkinkan. Kalaupun bisa samapai puncak, itupun juga pasti pas magrib, gak dapet view, cuaca ekstrim, ngeri turunnya. Dalam hati saya merasa bersalah, “apa ini gara2 saya? Maaf yaa” begitu kata saya sambil sesenggukan dikit. Tapi mereka menjawab dengan santai “gak kok, udah jangan nangis, nanti kapan2 muncak sini lagi”. Lega, bahagia, ya walaupun masih sedikit merasa bersalah, tapi lama2 kami ketawa2 lagi gara2 jalur “jegluk-jegluk akar dan turunan tajam”.


"Tujuan akhir dari mendaki bukanlah puncak, tapi kembali ke rumah dengan selamat!
Pikirkan safety, bukan ego diri!
Berangkat bareng – pulang bareng! "



Terimakasih untuk pendakian kedua ini, Slamet (via Guci) . ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar