Jumat, 04 Desember 2015

Coretan Pertama

Secarik Surat dari 2958

“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari… Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  
By : Pramoedya Ananta Toer 

Yap. . .menurutku ada cara bagi kita semua agar tidak hilang dalam sejarah...
“Dokumentasi”, ya dokumentasi baik berupa gambar, foto, video, tulisan, atau apapun itu yang bisa merekam ingatan kita yang terbatas. Setiap tempat punya cerita, setiap detik akan merajut peristiwa, dan semua itu akan menorehkan kesan yang berbeda. Dan kali ini aku akan bercerita untukmu, Sayang. . . Rinduku pada ketinggian mungkin menjadi salah satu faktor utama aku menulis ini. Disamping kegalauanku dalam menunggu masa PKL yang sehari-hari berisi kemonotonan di kamar berukuran 4x4 meter ini. . .-_- 

Dengarkan baik-baik salah satu dongeng kehidupanku Sayang. . . #jangan ngantuk ya, jangan tidur sebelum aku tidur. . .ok? ^_^ Kali ini akan kulantunkan dongeng dari Lembah Surya Kencana…. Ya, Gunung Gede dengan ketinggian 2958 mdpl ini punya cerita. Dulu, 8 Oktober 2011 menjadi titik awal kecintaanku pada dunia pendakian. Kau tahu sayang? Sebenarnya sudah dari SD aku naik gunung, bukit di belakang sekolahku #udah kaya di film Doraemon# menjadi ketinggian pertama yang kudaki, mungkin sekitar 600-800 mdpl. Hahaha… ok back to Sukabumi, pertama kali akan menginjakkan kaki di gunung ini begitu mendebarkan, semangat 45, dan so pasti senang karena aku akan naik gunung yang sesungguhnya….:D 

Well, waktu itu aku masih tingkat 1 dan calon anggota salah satu organisasi pecinta alam di kampusku. Masih polos nan imutnya lah ya, sampai aku mau bawa selimut tebal bin gede ke gunung -_- yang pada akhirnya sebelum pemberangkatan selimut itu gak jadi dibawa a.k.a disimpan di sekret #ya iyalah#. Ditemani Kakak dan Abang2 serta kawan seperjuangan (calon anggota) berangkatlah kita mencari kitab suci #eh# menuju Cibodas (1425 mdpl), maksudnya. Setelah mengantongi SIMAKSI dan daftar online, serta bayar patungan buat ongkos,konsumsi,dll mulailah kita membuat jejak disini  . Langkah demi langkah kami diiringi deru nafas dan cucuran keringat menjadi kawan setia sepanjang perjalanan. Awal perjalanan trek berupa batu yang telah tersusun rapi layaknya tangga, suasana hutan hujan tropis, suara kicauan burung dan deru air di sepanjang penantian menuju puncak begitu menentramkan jiwa. Ah, sungguh menyenangkan Sayang, apalagi bersamamu . Sekitar 15 menit berjalan kita akan sampai di Pos Telaga Warna pada ketinggian 1500 mdpl, disini ada sebuah rawa yang airnya dapat berubah-ubah karena adanya tanaman ganggang yang tumbuh di dasar telaga. Konon disini pula ada ikan yang ukurannya sangat besar dan mistis, walaupun aku sendiri belum pernah melihatnya Sayangku…hehe, menurutku tempat ini menjadi salah satu spot terbaik untuk kita foto berdua, 11-12 lah sama Ranu Kumbolo di Semeru…:D 

Next, trek berubah dari batu menjadi jembatan kayu yang sudah mulai rusak, tapi tahun 2013 kemarin sudah disemen sehingga lebih safety bagi para pendaki, disini juga ada spot bagus buat foto dimana kita duduk/ berdiri di jembatan dengan Gunung Pangrango tampak gagah dibelakang kita, there will be a nice photo, right?…menyusuri jalan ini kita akan sampai di pos Rawa Gayang Agung yang selanjutnya trek kembali berupa tanjakan dengan batuan seperti trek awal yang akan mengantarkan kita ke pos Panyancangan Kuda pada ketinggian 1628 mdpl. Pos ini berupa pertigaan, dimana ke kanan menuju air terjun Cibereum, sedangkan lurus menuju puncak. Tahukah kamu Sayang, setelah 3x ke Gede aku belum pernah ke air tejun itu…jadi kau mau kan menemaniku kesana, menikmati canda tawa dalam secangkir kopi di tepi air terjun?  … 

Lanjut ke tujuan awal yaitu puncak…perjalanan makin melelahkan, “berapa lama lagi menuju puncak?” itu yang selalu menjadi pertanyaan bagi para pendaki gunung, “5 menit lagi”, begitulah jawaban para senior yang sudah pernah naik gunung itu #tujuannya sih menyemangati, dibalik PHP#... dari pertigaan menuju puncak jalur terus menanjak, beberapa menit kita sampai di pos Batu Kukus (1820 mdpl). Dari sini jalan berbatu mulai berganti dengan tanah serta bonus/ jalan datar :D #that’s what we’re waiting…haha#. Pos selanjutnya adalah pos Pondok Pemandangan yang sering digunakan beristirahat bagi pendaki menunggu antrian melewati air panas jika musim ramainya pendakian. Melewati air panas disini rasanya seperti spa alam…haha…jarang2 kan ada air panas ditengah jalur pendakian, tapi kita tidak lama-lama mengingat disamping kanan adalah jurang yang cukup dalam, disamping itu juga pasti para pendaki mau lewat, so don’t stop in this area too long,ok? 

Sedikit berjalan keatas, ada sungai berair hangat, disini kita bisa berendam melemaskan otot2 yang lelah…wah, surga dunia… setelah puas beristirahat perjalanan berlanjut yang akan membawa kita sampai di pos Kandang Batu pada ketinggian 2220 mdpl yang berupa tanah datar luas, namun tujuan kita istirahat makan siang adalah di pos Kandang Badak, (2395 mdpl). Di pos ini kita mengisi air untuk persediaan sampai puncak serta mengisi tenaga karena jalur yang selanjutnya akan lebih berat. Untuk menuju puncak gede dari pos ini kita berjalan ke atas dan ambil arah ke kiri, sedangkan ke kanan apabila kita ingin menuju puncak Pangrango. Trek tetap berupa tanah sampai beberapa menit kita sampai di Tanjakan Setan #wuih, namanya serem amat ya# tanjakan ini lebih mirip tebing, sehingga ketika melaluinya kita harus menjat menggunakan tali tambang yang sudah dipasang….sensasinya? mantap sekali Sayang, ketika sampai diatas justru kita ingin mencobanya lagi..haha… Dari sini kita melalui pepohonan yang sumpah bikin aku jenuh karena selalu mempertanyakan kapan bisa ku temui tanah datar..-_-  

Finally, setelah perjalanan ±8 jam sampailah aku dan teman2 sependakian seperjuangan di Puncak Gunung Gede 2958 mdpl….:D setelah penantian panjang, kita dimanjakan dengan kawah gunung gede serta panorama gunung pangrango di sebelah barat dan kota2 yang tampak kecil di sisi utara-selatan… tanah di puncak ini berupa batu2an hitam lepas… Tidak terlalu lama di puncak, turunlah kita menuju taman edelweiss…setelah 15 menit….yap, Surya Kencana we’re coming……:D pertama kali melihat tempat ini rasanya begitu…hmm,….speechless :3… indaaaah banget, bayangkan saja, tanah lapang dengan dipenuhi bunga edelweiss, bunga abadi dengan latar belakang gunung Gemuruh…..wooow….tidak pernah ada kata bosan mengunjungi tempat ini…disini juga ada aliran sungai yang jernih dan segar tentunya….menyenangkan sekali membayangkannya saja…#ya,karena aku selalu rindu tempat ini# … kami mendirikan tenda dan memasak….hal kecil inipun juga selalu ku rindu….#uh..i really miss those moments so much :’) #.. Surya Kencana juga menjadi tempat bersejarah bagi angkatanku Sayang, angkatan PDM XX… aku, dan mereka dilantik disini…di tengah hamparan bunga edelweiss berselimut kabut tipis…disini aku mendapatkan nomor itu M/191091/284/PDM XX… begitu pula dengan saudara-saudaraku yang lain dengan nomornya masing-masing. . . 

Aku rindu Surya Kencana, edelweiss, sunrise, dan…. Aku rindu mereka….. 
Dan tentunya aku merindukanmu, Sayangku… 
Dalam penantianku, kan kupastikan kesana lagi, Bersamamu nanti. . . :’) 

Disusun oleh :Shusy Suzan
- Secarik Surat dari 2958-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar